Ballon d’Or 2021, Legenda Real Madrid Ini Jagokan Lionel Messi

Salah seorang legenda Real Madrid dan Tim Nasional Italia, Fabio Cannavaro mengakui bahwa Jorginho memang layak meraih Ballon d’Or tahun ini, akan tetapi dia memprediksi bahwa pemenangnya adalah Lionel Messi.

Sebagaimana diketahui, France Football baru-baru ini telah merilis daftar 30 Nominasi Ballon d’Or 2021, dimana ada beberapa nama langganan yang kembali masuk dalam daftarnya, termasuk Lionel Messi.

Tentu saja, Messi seperti biasa mencetak banyak gol bersama Barcelona musim kemarin, tapi dia hanya meraih satu trofi juara yakni Copa Del Rey. Meski begitu, publik tidak bisa mengabaikan fakta bahwa La Pulga juga memenangkan trofi Copa America 2021 bersama Argentina.

Bagi Messi sendiri, itu adalah trofi pertamanya bersama dengan Timnas Argentina.

Sedangkan Italia yang memenangkan gelar Piala Euro 2020 kemarin mengirimkan 5 perwakilan dalam daftar tersebut, tapi yang paling disoroti adalah Jorginho.

Gelandang berdarah Brazil itu memang tidak mencetak banyak gol, tapi dia adalah satu-satunya pemain yang memenangkan gelar Liga Champions Eropa (Bersama Chelsea) dan gelar Piala Euro (Bersama Italia).

JORGINHO LAYAK, TAPI MESSI BAKAL MENANG

Cannavaro sendiri adalah pemain Italia terakhir yang memenangkan ballon d’Or dan dia ikut senang melihat ada 5 pemain Gli Azzurri yang menembus daftar 30 besar.

Soal Jorginho, Cannavaro juga percaya bahwa pemain Chelsea itu layak jadi pemenang, tapi menurutnya Ballon d’Or 2021 ini bakal dimenangkan Lionel Messi.

“Tak pernah ada lima orang Italia masuk nominasi sejak saya menang pada 2006. Jadi, itu pertanda baik. Jorginho adalah yang paling terakreditasi, meskipun saya yakin Messi akan menang,” ucapnya pada Gazzetta dello Sport, via Football Italia.

HARUSNYA CHIESA MASUK

Selain Jorginho, ada empat pemain Italia yang masuk dalam daftar tersebut diantaranya Chiellini, Bonucci, Barella dan Donnarumma. Menurut Cannavaro, harusnya Federico Chiesa juga layak masuk dalam daftar tersebut atas apa yang dia lakukan pada ajang Euro 2020 kemarin.

“Barella dan yang lainnya semua pantas mendapatkannya, tetapi Chiesa seharusnya berada di grup juga, setelah apa yang ia tunjukkan,” klaimnya.

Lukaku Akui Banyak Belajar Dari Periode Pertamanya di Chelsea

Striker Belgia, Romelu Lukaku mengungkapkan bahwa peningkatan performanya selama beberapa tahun terakhir ini tak terlepas dari pengalaman pahit saat masih membela Chelsea di masa lalu, atau periode pertamanya bersama The Blues.

Sebagai informasi, Romelu Lukaku memang pernah berseragam Chelsea sebelumnya, tepatnya sejak dibeli dari Anderlecht pada tahun 2011. Tapi sayangnya, Lukaku yang saat itu masih sangat muda jarang mendapat kesempatan tampil di tim utama.

Alih-alih bakatnya berkembang bersama Chelsea, sang pemain justru lebih sering dipinjamkan ke klub lain, mulai dari Anderlecht, kemudian West Bromwich Albion dan terakhir Everton. Setelah itu dia ditebus permanen oleh The Toffees.

Setelah itu, Lukaku sempat membela Manchester United, kemudian hijrah ke Inter Milan dan meraih sukses disana. Pada musim panas kemarin, Striker Belgia ini menerima kembali pinangan dari Chelsea.

PENGALAMAN YANG BERMANFAAT

Periode keduanya di Chelsea kali ini jauh berbeda dengan periode pertama yang pahit. Biar begitu, Lukaku tidak mengesampingkan fakta bahwa periode buruk tersebutlah yang justru membuatnya lebih kuat dan meningkat seperti sekarang ini.

“Itu menyakitkan dan membantu, tetapi saya akan mengatakan lebih bermanfaat karena itu memberi saya mentalitas dan pola pikir yang saya butuhkan untuk menjadi pemain seperti sekarang ini,” seru Lukaku pada laman resmi Chelsea.

BANYAK BELAJAR

Periode pertamanya di Chelsea lebih banyak dihabiskan di bangku cadangan, namun begitu sang pemain tetap mengikuti sesi latihan bersama para pemain senior, pada kesempatan itulah dia banyak belajar dari para pemain bintang sekelas Terry, Hazard, Lampard dan lainnya.

“Tim ini sangat bagus tetapi tidak ada yang melihat kerja ekstra yang mereka lakukan setelah sesi latihan. Sebagai seorang anak berusia 18 tahun, saya melihat secara langsung setiap hari seberapa banyak para pemain bekerja pada keahlian mereka,”

“Saat itulah saya tahu itulah yang harus Anda lakukan untuk menjadi tipe pemain seperti ini. Saya berkata pada diri sendiri ‘ketika saya tidak bermain, inilah yang akan saya lakukan’, dan pada dasarnya itu hanya menjadi gaya hidup,” kenangnya.

Solskjaer Disarankan Ubah Posisi Scott McTominay, Kenapa?

Bryan Robson memberikan saran kepada pelatih Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer untuk mengubah posisi bermain gelandang Scott McTominay di Tim.

Bagi yang belum tahu, Scott McTominay sendiri merupakan salah seorang produk akademi Manchester United, yang kemudian memulai debutnya di tim utama Manchester United sejak era Jose Mourinho.

Menariknya, McTominay yang biasanya memainkan peran sebagai gelandang serang di tim junior Manchester United justru diturunkan sebagai gelandang tengah saat bermain untuk tim utama Setan Merah.

Kemudian, semenjak Solskjaer menduduki kursi manajer, posisi Scott McTominay kembali berubah, dari gelandang tengah kini lebih sering bermain sebagai gelandang bertahan, dan bertandem dengan Fred.

BISA BERMAIN BOX TO BOX

Menanggapi hal tersebut, Bryan Robson menilainya sebagai hal yang biasa, karena kebanyakan pelatih belakangan ini memang lebih suka gelandang bertahan atau gelandang serang.

“Saya rasa pelatih-pelatih saat ini lebih menyukai seorang gelandang serang atau gelandang bertahan,” buka Robson kepada The Daily Mail.

Namun, Robson menyayangkan juga kenapa Solskjaer menurunkan McTominay sebagai gelandang bertahan, padahal bakatnya sebagai gelandang tengah yang bisa memaikan peran box to box sangatlah bagus.

“Saya yakin di era modern ini masih ada gelandang yang bisa bermain box to box, dan saya rasa United memiliki satu pemain seperti itu, yaitu Scott McTominay,”

BISA LEBIH BAIK LAGI

Lebih lanjut menurutnya, Solskjaer bakal bisa memaksimalkan bakat yang dimiliki McTominay jika memang dia diturunkan sebagai seorang gelandang tengah, alih-alih gelandang bertahan seperti sekarang.

“Saya rasa ia tidak harus bermain sebagai gelandang bertahan. Ia mencetak tujuh gol musim lalu dan saya yakin ia masih bisa lebih tajam lagi,”

“Mungkin di musim ini ia bisa mencetak 10 sampai 15 gol sebagai seorang gelandang. Jika ia terbebas dari cedera, saya yakin Scott bisa meraih itu semua,” ujarnya.

Adapun, Scott McTominay sempat absen di beberapa pertandingan pertama musim ini karena cedera paha bahkan sampai naik ke meja operasi, namun sekarang kondisinya sudah pulih dan siap bermain lagi.

Thomas Tuchel Ungkap Sulitnya Latih Paris Saint-Germain

Menangani Tim Bertabur Bintang seperti Paris Saint-Germain mungkin terdengar mudah bagi seorang pelatih, namun Thomas Tuchel yang pernah mencicipi pengalaman tersebut sendiri merasa sebaliknya.

Sebagai klub kaya raya yang berambisi memenangkan segalanya, Paris Saint-Germain memang terkenal gemar merekrut para pemain top dari berbagai belahan dunia. Tak hanya pemain, mereka bahkan sering melakukan pergantian pelatih.

Di klub Prancis tersebut, pelatih yang hanya meraih gelar juara di pentas domestik masih belum dianggap sukses, karena sejatinya dengan materi pemain yang ada, PSG berambisi meraih gelar Liga Champions Eropa.

KADANG DILEMA

Ya, Materi pemain bintang di Paris Saint-Germain begitu berlimpah sebut saja Kylian Mbappe, Neymar, Verratti, Icardi dan sekarang ada Lionel Messi, Sergio Ramos, Donnarumma dan masih banyak lagi.

Mungkin, terlihat mudah bagi pelatih yang menangani tim bertabur bintang seperti itu, tapi hal yang sebaliknya dirasakan oleh Thomas Tuchel.

Pria yang kini menangani Chelsea tersebut merasa bahwa melatih tim bematerikan pemain-pemain bintang seperti itu sangatlah sulit, bahkan terkadang dia harus membuat keputusan yang berat.

“Tidak mudah untuk melatih Neymar dan Mbappe. Saya mengalami saat-saat sulit di PSG bersama, saya harus meninggalkan pemain yang sebelumnya bermain bagus dan kadang itu menjadi berat,”

“Apa yang diminta untuk Neymar, misal, lebih baik di sisi kiri. Mengapa saya harus memulai dan memulai diskusi ini? Saya harus menemukan solusi terbaik di sisi kiri lapangan, menciptakan situasi untuk menemukannya dan memberikannya pilihan,” ucap Tuchel dikutip dari Football London.

PENGALAMAN BERHARGA

Meski demikian, Thomas Tuchel sama sekali tak menyesali pengalamannya pernah menangani Paris Saint-Germain, dia justru merasa mendapatkan pengalaman yang berharga selama berkarir disana.

“Anda juga dapat mengkritik sang juara, bintang, karena para pemain tahu bahwa mereka harus mengambil tanggung jawab. Senang bermain dengan bintang-bintang di PSG, itu membuat menjadi pelatih Lukaku lebih mudah,” kata Tuchel.

Setelah didepak pada Desember 2021 lalu, Tuchel langsung menangani Chelsea dan membawa klub Premier League meraih gelar Liga Champions Eropa.

Menurut Laurent Blanc, Barca Lakukan Kesalahan Dalam 5 Tahun Terakhir

Mantan pelatih Tim Nasional Prancis, Laurent Blanc melayangkan kritik kepada bekas klubnya, Barcelona yang dianggap telah melakukan kesalahan luar biasa dalam lima tahun terakhir sehingga memunculkan situasi klub yang krisis seperti sekarang ini.

Seperti diketahui, Barcelona memang tampak buruk di awal musim ini, sebagaimana mereka mendapati serangkaian hasil mengecewakan di semua ajang. Bahkan tercatat klub Catalan hanya meraih satu kemenangan dalam empat laga terakhirnya di semua ajang.

Tak hanya itu, dalam dua laga terakhir sebelum jeda Internasional, Barcelona bahkan telan kekalahan beruntun, masing-masing melawan Benfica di ajang Liga Champions Eropa dengan skor telak 0-3, kemudian saat berhadapan dengan Atletico Madrid dengan skor telak 0-2.

PANDANGAN LAURENT BLANC

Situasi pelik yang dialami barcelona ini membuat banyak pihak ikut bersimpati, termasuk diantaranya Laurent Blanc, pelatih asal Prancis yang sempat membela Raksasa Catalan sebagai pemain di masa lalu.

Blanc berpendapat bahwa mantan klubnya tersebut sejatinya telah berbuat kesalahan selama lima tahun terakhir, bukan hanya soal hubungan klub dengan Lionel Messi, tapi juga beberapa hal lain.

“Jika saya melihat dari perspektif Barcelona, saya percaya bahwa mereka melakukan kesalahan luar biasa. Bukan cuma soal relasi dengan [Lionel] Messi, tapi melihat empat atau lima tahun terakhir,” katanya kepada Panenka.

Termasuk salah satu kesalahan Barcelona adalah terlalu mudah kehilangan para pemain top mereka sekelas Neymar, lalu disusul oleh Lionel Messi.

“Mereka telah kehilangan banyak pemain luar biasa, di mana klub seperti Barcelona harusnya tidak melakukan itu. Anda tidak bisa kehilangan Neymar atau Messi, karena sangat sulit untuk menggantikan mereka.” Tambahnya.

INGIN LATIH BARCELONA

Laurent Blanc sendiri tak memungkiri bahwa dia juga punya keinginan untuk menangani sang mantan klub, hanya saja ada beberapa alasan yang membuat keinginan tersebut tak terwujud.

“Sudah jelas melatih klub seperti Barcelona adalah sebuah impian, tapi itu tidak terjadi karena beragam alasan. Bukan waktu yang tepat atau seseorang yakin saya belum siap buat itu. Begitulah kehidupan,” pungkasnya.

UEFA Nations League Sudah, Benzema Kini Targetkan Piala Dunia 2022

Karim Benzema akhirnya meraih apa yang menjadi impiannya sejak lama yakni meraih trofi juara bersama Tim Nasional Prancis. Impian tersebut terwujud saat membawa Prancis meraih kemenangan di Final UEFA Nations League melawan Spanyol.

Sebagaimana diketahui, Karim Benzema pada akhirnya memang kembali dipanggil Tim Nasional Prancis setelah cukup lama diabaikan. Kembalinya Striker Real Madrid membuatnya jadi pilihan utama di ajang UEFA Nations League tahun ini.

Benzema menunjukkan performa yang apik, mencetak gol demi gol sampai membawa Les Bleus ke babak final UEFA nations League. Di babak puncak tersebut, pasukan Didier Deschamps berhadapan dengan Spanyol.

Pada laga yang berlangsung senin dinihari WIB tadi (11/10), Prancis lebih dulu tertinggal oleh gol Mikel Oyarzabal. Untung saja, tak lama berselang Karim Benzema berhasil mencetak gol spektakuler untuk membuat kedudukan menjadi sama kuat 1-1.

Prancis kemudian mengunci kemenangan dan meraih trofi juara berkat gol Kylian Mbappe pada babak kedua.

IMPIAN YANG JADI NYATA

Setelah pertandingan tersebut, tampak jelas raut wajah girang dari Karim Benzema, karena combacknya dia ke Tim Nasional Prancis langsung berbuah trofi juara. Bagi Striker 33 tahun itu, meraih gelar juara bersama Les Bleus adalah impiannya sejak lama.

“Ini adalah malam impian dari sudut pandang pribadi dan tim. Saya benar-benar ingin memenangkan trofi bersama Prancis,” ujar Benzema kepada M6 seusai laga.

TARGET JUARA DI QATAR

Setelah capaian yang indah tersebut, kini Benzema semakin merasa percaya diri dan optimis untuk menatap kompetisi-kompetisi berikutnya. Tentu saja, dia kini targetkan gelar juara Piala Dunia 2022 bersama Timnas Prancis.

“Ini tidak mudah dan kami menunjukkan kekuatan karakter tim ini. Kami tidak pernah menyerah. tim untuk tidak pernah panik dan bersabar. Kami berhasil mencetak dua gol,”

“Kami akan memanfaatkannya sebaik mungkin dan bersiap untuk Piala Dunia… dan pergi dan memenangkannya!” tutur Benzema.

Prancis sendiri sebenarnya adalah juara bertahan di Piala Dunia, mereka memenangkan edisi terakhir di tahun 2018 lalu dengan mengalahkan Kroasia, tapi saat itu Benzema memang tidak ikut serta.

Lupakan Pemecatan, Posisi Solskjaer Di MU Masih Aman

Tagar #OleOut yang mengacu pada tuntutan memecat Ole Gunnar Solskjaer dari Kursi Manajer kembali ramai di Sosial Media, dimana kebanyakan dari mereka adalah fans Manchester United. Tapi tampaknya, manajemen klub tidak peduli dengan desakan tersebut.

Tekanan yang dirasakan Solskjaer pada musim panas ini memang cukup berat, pasalnya klub sudah mendaratkan para pemain yang diinginkan sang juru taktik pada musim panas kemarin, mulai dari Raphael Varane, Jadon Sancho sampai Cristiano Ronaldo.

Kedatangan para pemain tersebut menambah antusiasme para fans Manchester United, mereka begitu percaya diri bahwa musim ini klub akan menyudahi puasa gelar.

Memang, pada awalnya performa Setan Merah tampak meyakinkan, tapi belakangan mereka mulai tidak konsisten. Dari empat pertandingan, Manchester United hanya mampu meraih satu kemenangan saja.

Terbaru, dalam lanjutan Premier League akhir pekan kemarin, klub hanya mampu meraih hasil imbang 1-1 melawan Everton.

Serangkaian hasil buruk tersebut membuat para fans Manchester United mulai kehilangan kesabaran, mereka lantas ramai-ramai mendesak klub untuk memecat Ole Gunnar Solskjaer dari kursi pelatih lewat tagar #OleOut di Sosial Media.

MASIH PERCAYA

Situasi tersebut lantas memunculkan spekulasi pemecatan Solskjaer, namun John Murtough selaku Direktur Sepakbola Manchester United bisa memastikan posisi pria asal Norwegia masih aman dan klub masih percaya terhadapnya.

“Satu hal yang kami lakukan adalah tetap mengontrol – secara emosional kami tidak terbawa suasana, kami tidak menyimpang dari rencana kami,”

“Ole dan staf sangat fokus pada hal itu. Kami tidak terganggu oleh apa yang dikatakan di media sosial, yang terkadang dapat menimbulkan semangat dan histeria. Itu bagian dari permainan modern, tapi kami sangat fokus.” kata direktur sepak bola MU John Murtough.

PELUANG JUARA

Saat ini, Manchester United sendiri masih berada di posisi ke-4 pada klasemen sementara Premier League.

“Premier League adalah salah satu liga paling kompetitif di dunia – pemain dari luar negeri dan liga lain memberi tahu kami betapa berbedanya itu – tetapi kami 100% siap untuk tantangan ini,”

“Kami percaya bahwa kami memiliki bakat dan karakter di dalam skuat untuk sukses.” lanjutnya.

Joan Laporta Bersyukur Batal Pulangkan Neymar ke Barcelona

Presiden anyar Barcelona, Joan Laporta mengakui bahwa pihaknya sempat berencana memulangkan Neymar ke Camp Nou, tapi pada akhirnya gagal terwujud. Meski terdengar mengewakan, tapi kini Laporta malah bersyukur akan kegagalan tersebut.

Neymar memang pernah menjadi pemain andalan Barcelona, dia dibeli dari Santos pada tahun 2013 silam. Setelah empat tahun membela klub Catalan, meraih sejumlah trofi bergengsi termasuk Treble Winner di tahun 2015, Bintang Brazil ini memutuskan hengkang ke PSG.

Tapi, kendati menyandang status sebagai pemain termahal dunia dan jadi aktor utama di Paris Saint-Germain, Neymar tak lantas merasa bahagia. Atas alasan tersebut kabarnya bintang Brazil ini berniat kembali ke Barcelona.

Sang pemain beberapa kali dikaitkan dengan mantan klubnya, namun yang paling intens terjadi pada bursa transfer musim panas tahun 2020 kemarin. Akan tetapi, pada akhirnya eks Santos itu tetap bertahan di Prancis.

MEMANG INGIN PULANG

Sekarang, setelah satu tahun berlalu, Joan Laporta sebagai Presiden baru Barcelona membenarkan bahwa Neymar memang menginginkan kepulangan ke Camp Nou.

Saat itu, Barcelona merasa cukup percaya diri dengan kondisi finansial mereka sehingga berusaha untuk memenuhi keinginan sang mantan pemain.

“Ketika angka-angkanya dijelaskan kepada kami, kami pikir ada ruang untuk melakukannya. Kami tidak melakukan uji tuntas,”

“Mereka memberi tahu kami bahwa ia ingin datang, dan ia tidak bisa melanjutkan di sana, setelah meyakinkan klub” Ungkap Joan Laporta pada RAC1.

SEKARANG BERSYUKUR

Pada akhirnya, Barcelona gagal mendapatkan jasa Neymar kembali dikarenakan tawaran mereka dianggap belum cukup tinggi oleh Paris Saint-Germain.

Mungkin terdengar mengecewakan, tapi melihat kondisi finansial klub yang sekarang, Laporta justru merasa bersyukur Neymar tidak kembali ke Camp Nou.

“Tapi ini sepak bola dan siapa pun yang memberikan penawaran terbaik akan menang. Tidak mengontraknya adalah hal yang baik, itu tidak akan membantu [situasi finansial Barcelona],” ujarnya.

“Neymar bisa menghasilkan banyak pendapatan, tetapi tidak mengontraknya adalah hal yang bagus,” seru Laporta.

Kondisi finasial buruk yang sedang dialami Barcelona sendiri juga menjadi alasan kepergian Lionel Messi ke Paris Saint-Germain pada musim panas kemarin.

Soal Krisis Barcelona, Jangan Cuma Salahkan Ronald Koeman

Legenda Barcelona, Rivaldo meminta publik untuk tidak melulu menyalahkan Ronald Koeman atas periode krisis yang sedang dalami Barcelona pada awal musim ini. Menurutnya, para pemain juga harus ikut bertanggung jawab atas hal tersebut.

Barcelona memang sedang dilanda keterpurukan pada awal musim ini, bayangkan saja raksasa Catalan hanya mengemas 1 kemenangan dalam 6 pertandingan terakhir mereka di semua ajang.

Terkini, Klub takluk di tangan sang rival, Atletico Madrid dengan skor telak 0-2 dalam pertandingan yang berlangsung di Estadio Wanda Metropilitano. Akibatnya, kini Los Blugrana menempati posisi ke-8 di klasemen sementara La Liga.

Tentu saja Periode sulit ini membuat pelatih Ronald Koeman jadi sasaran kritikan dan kabarnya posisinya sebagai manajer barcelona sedang berada di ambang pemecatan.

HARUSNYA BUKTIKAN KELAYAKAN

Namun, Legenda klub Rivaldo meminta publik untuk tidak melulu menyalahkan Koeman, karena saat ini para pemain juga harusnya ikut bertanggung jawab.

Singkatnya, Rivaldo menilai bahwa ini adalah momentum yang tepat bagi para pemain untuk membuktikan apakah mereka layak dipertahankan Barcelona.

“Beberapa dari pemain sebelumnya mengeluhkan kurangnya peluang mereka di tim. Nah sekarang mereka memiliki kesempatan untuk membuktikan mengapa mereka pantas mendapatkan kepercayaan klub dan mengapa tidak salah untuk mengontrak mereka,”

“Para pemain ini harus melangkah di masa-masa sulit. Kita tidak bisa terus-menerus mengkritik manajer Ronald Koeman. Dia bukan satu-satunya yang bertanggung jawab atas situasi ini.” lanjutnya.

MASIH PERCAYA PADA KOEMAN

Namun tetap saja, para fans menuntut agar Koeman dipecat dari kursi manajer. Rivaldo tak memungkiri hal tersebut tapi dia juga masih memiliki keyakinan bahwa Koeman bisa mengatasi situasi ini.

Sekarang, tekanan dan keputusan sepenuhnya ada pada Presiden Joan Laporta, karena memecat Koeman mungkin akan membuat tekanan yang ada jadi berkurang.

“Sejujurnya, saya masih berpikir Koeman dapat melanjutkan di klub, tetapi saya juga mengakui bahwa Juan Laporta mungkin sedang memikirkan pengganti untuk menghilangkan tekanan dari tim,” ucapnya.

Selepas jeda Internasional nanti, barcelona sendiri akan berhadapan dengan Valencia dalam lanjutan La Liga Spanyol.

Lionel Messi Bantah Klaim Menyesal Gabung Paris Saint-Germain

Dengan fakta bahwa dia baru mencetak satu gol untuk Paris Saint-Germain dan kesulitan tampil bagus, Lionel Messi diklaim telah menyesal bergabung dengan Paris Saint-Germain, namun klaim tersebut buru-buru dibantah sang pemain.

Sebagaimana diketahui, Lionel Messi memang menjadi sorotan pada bursa transfer musim panas kemarin, dimana mega bintang Argentina tersebut secara mengejutkan harus berpisah dengan Barcelona lantaran kesepakatan kontrak barunya tidak bisa dilanjutkan.

Sebelum jendela transfer musim panas ditutup, Messi langsung mencapai kesepakatan dengan Paris Saint-Germain, dimana kepindahan ini adalah yang pertama dalam karir professional La Pulga sebagai seorang pesepakbola.

Bersama dengan klub barunya, Messi yang sudah mengoleksi 6 Ballon d’Or belum juga mampu menunjukkan performa apik. Bahkan, dari lima pertandingan yang telah dia mainkan di semua ajang, La Pulga baru mengemas satu gol.

BANTAHAN MESSI

Situasi tersebut memunculkan spekulasi yang mengklaim bahwa Lionel Messi telah menyesali keputusannya bergabung dengan Paris Saint-Germain pada musim panas kemarin.

Namun, di tengah-tengah kebersamaannya dengan Tim Nasional Argentina di Jeda Internasional pekan ini, pemain berjuluk La Pulga tersebut memberikan bantahannya.

“Saya tidak melakukan kesalahan dengan pergi ke PSG,” kata Messi kepada France Football.

BARCELONA TANPA MESSI

Bukan hanya Messi yang kesulitan karena kepindahan kemarin, tapi juga mantan klubnya, Barcelona. Ya, Raksasa Catalan mendapati serangkaian hasil buruk di awal musim ini.

Bahkan, dalam enam pertandingan terakhirnya, Raksasa Catalan hanya meraih dua kemenangan saja dan kalah dua kali.

Pelatih Ronald Koeman sendiri mengakui bahwa kepergian Lionel Messi memang membawa dampak besar bagi tim asuhannya. Terlepas dari fakta bahwa La Pulga tetap membutuhkan pemain lain, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa sang pemain memang merupakan seorang pembeda.

“Messi menyembunyikan segalanya. Dia (Messi) sangat bagus dan dia memenangkan (pertandingan kami). Tentu saja dia memiliki pemain bagus di sekitarnya, tetapi dia membuat perbedaan.”

“Berkat dia, semua orang terlihat lebih baik. Ini bukan kritik, tapi pengamatan,” kata Ronald Koeman.