Perkataan Kontroversial Bonucci Usai Parade Juara Euro 2020

Usai berhasil menang atas Inggris di Final Piala Euro 2020 kemarin, skuat Tim Nasional Italia langsung merayakan gelar juara tersebut dengan mengelilingi kota Roma. Parade Juara ini jadi masalah baru, terlebih jika menyoroti perkataan salah seorang bek Gli Azzurri, Leonardo Bonucci.

Seperti diketahui, pada awal pekan ini Senin, 12 Juli 2021, Italia berhadapan dengan Inggris di babak Final Piala Euro 2020. Pada pertandingan tersebut, Pasukan Roberto Mancini akhirnya keluar sebagai pemenang setelah unggul dalam drama adu penalti.

Tentu saja trofi Piala Euro yang diraih Timnas Italia langsung dibawa pulang seiring pulangnya para pemain, di saat yang bersamaan juga skuat Italia mendapat sambutan meriah oleh para fans yang jumlahnya terbatas.

AWAL MULA PERMASALAHAN

Meski tidak ada parade besar-besaran seperti biasanya tapi para pemain Timnas Italia tetap bisa merayakan trofi tersebut dengan berkeliling kota Roma mengenakan bus, bisa dikatakan inilah awal mula dari masalah yang ada.

Menurut Football Italia, pemerintah lokal Roma ternyata hanya mengizinkan parade dengan bus tertutup. Harapannya, bus tertutup dapat meminimalisir kumpulan fans di jalanan. Ini penting sebagai langkah pembatasan sosial di tengah pandemi.

Namun pada kenyataannya skuat Timnas Italia tetap mendapatkan Bus Terbuka, para pemain pun berkumpul di atap bus untuk kemudian berkeliling kota Roma dan memamerkan trofi juara. Inilah yang kemudian menjadi kecaman dari sejumlah pihak terutama pemerintah Kota Roma yang tak mengizinkan adanya bus atap terbuka.

Mendengar itu, Bek Leonardo Bonucci tampak geram dan kesal, dia pun melontarkan ucapan kontroversial.

“Saya salah pekerjaan ini. Lupakan sepak bola, seharusnya saya masuk politik. Saya bakal jadi Menteri dalam Negeri yang bagus!” jawab Bonucci berkelakar.

PENJELASAN BONUCCI

Bonucci pun menjelaskan bahwa sebenarnya pemilihan bus atap terbuka ini pada akhirnya disepakati karena sudah ada banyak fans yang bertebaran di jalan-jalan.

“Biar jelas, seluruh delegasi meminta bus atap terbuka karena dengan bus tertutup akan tetap menghadapi blokir jalanan, sudah ada banyak orang di jalanan,” lanjut Bonucci.

“Pihak berwenang menyetujui permintaan kami untuk bus atap terbuka, mereka berkata bisa menangani situasi. Kami tidak akan pernah berani melanggar aturan oleh pihak berwenang,” tandasnya.

Meski Tergoda, Paul Pogba Tak Paksakan Diri Pindah ke PSG

Update terkini datang dari spekulasi transfer gelandang Prancis, Paul Pogba menuju Paris Saint-Germain. Dikatakan bahwa mantan pemain Juventus tersebut sebenarnya tergoda untuk bergabung dengan Les Parisiens, tapi dia tidak akan memaksakan diri.

Pogba sebenarnya berulang kali diisukan bakal pindah dari Old Trafford, bahkan pada musim panas tahun 2020 kemarin, gelandang Timnas Prancis ini sempat diisukan bakal hengkang, namun pada akhirnya dia memilih bertahan.

Kini, seiring dengan dibukanya jendela transfer musim panas lagi, masa depan Pogba kembali jadi buah bibir media-media Eropa. Belakangan, dia lebih sering dikaitkan dengan raksasa Ligue 1 Prancis, Paris Saint-Germain.

Berita yang terdengar menyebut pihak Paris Saint-Germain sangat tertarik menjadikan Paul Pogba sebagai bagian dari proyek jangka panjang mereka.

TERTARIK DENGAN PROYEK PSG

Harus diakui, Les Parisiens memang tampak sangat serius dalam ambisi mereka menguasai Eropa, hal ini terlihat dari rekrutan-rekrutan anyar klub yang berbasis di kota paris tersebut. Bahkan, pada musim panas ini mereka baru saja mendatangkan dua pemain top, antara lain Sergio Ramos dan Gianluigi Donnarumma.

Untuk itu, RMC Sports mengklaim bahwa sebenarnya Paul Pogba sangat tertarik dengan proyek Paris Saint-Germain, terlebih lagi jika dia bergabung maka dia akan lebih dekat dengan keluarganya di Prancis.

Hanya saja, masih dari laporan yang sama, Pogba tidak akan memaksakan diri untuk pindah ke Paris, andai nantinya pihak Paris Saint-Germain tidak bisa memenuhi persyaratan transfernya yang ditentukan Manchester United. Dipercaya, MU hanya bersedia melepas Pogba di angka 120 Juta Poundsterling.

HORMATI KONTRAK

RMC Sports juga mengklaim bahwa Pogba masih ingin menghormati kontraknya di Manchester United yang akan berakhir pada musim panas tahun 2022 mendatang. Sang Gurita tidak ingin meninggalkan Old Trafford dengan kesan yang buruk.

Apapun itu, yang jelas saat ini Paul Pogba sedang berada di Amerika Serikat untuk menikmati sisa waktu liburan musim panas sebelum kemudian bergabung dengan skuat pra Musim Manchester United sebelum bulan Juli berakhir.

Piala Dunia 2022, Inggris Bisa Nyanyikan Lagi Tembang ‘Its Coming Home’

Pelatih AS Roma, Jose Mourinho meminta Tim Nasional Inggris untuk tidak berkecil hati terkait kegagalan di Euro 2020 kemarin, Pria asal Portugal itu yakin lagu ‘Its Coming Home’ bisa dinyanyikan Skuat The Three Lions pada Piala Dunia 2022 mendatang.

Tembang ‘It’s Coming Home’ memang menjadi salah satu tembang yang cukup sering terdengar sepanjang Piala Euro 2020 kemarin, terutama ketika Tim Nasional Inggris berhasil memastikan langkahnya ke babak final.

Sayang sekali, lagu yang sekaligus menjadi harapan gelar pertama Timnas Inggris sejak tahun 1966 silam langsung berhenti terdengar ketika di babak final, skuat The Three Lions kalah dari Italia saat adu penalti.

SKUAT MASA DEPAN YANG BAGUS

Tentu saja ini menyakitkan bagi Inggris, terlebih lagi pertandingan final melawan Italia kemarin berlangsung di Stadion Wembley, London. Namun, Jose Mourinho selaku eks pelatih Chelsea, MU dan Tottenham Hotspur meminta skuat Timnas Inggris tak perlu berkecil hati.

Menurutnya, apa yang ditunjukkan skuat muda Timnas Inggris pada Euro 2020 kemarin sudah cukup meyakinkan sehingga tembang ‘It’s Coming Home’ mungkin akan terdengar di Piala Dunia 2022 mendatang.

“Ada banyak hal yang bisa diharapkan soal Inggris. 16 bulan penuh pengetahuan serta pengalaman buat Gareth Southgate beserta pemainnya dan anda bisa menyanyikan ‘It’s Coming Home’ di Qatar tahun depan,” tulis Mourinho dalam kolom khusus di The Sun.

SOAL KEGAGALAN ADU PENALTI

Sebenarnya, dalam pertandingan final kemarin, Timnas Inggris berhasil unggul lebih dulu berkat gol yang dicetak Luke Shaw, tapi skor kemudian berubah jadi imbang 1-1 pada babak kedua. Kedudukan tersebut bertahan sampai babak perpanjangan waktu, pemenang lantas ditentukan dengan adu penalti.

Sebanyak tiga penendang Inggris gagal melakukan tugasnya sebagai eksekutor, ketiganya adalah para pemain muda. Soal itu, Mourinho meminta para pemain tersebut untuk tidak berkecil hati, karena dia sendiri juga selalu gagal dalam eksekusi penalti.

“Jangan khawatir soal kegagalan penalti – saya tidak ingin menganalisisnya karena saya pun spesialis gagal dalam adu penalti,” kata pelatih AS Roma itu.

Jurgen Klopp Bocorkan Rencana Liveprool di Bursa Transfer Musim Panas Ini

Ibrahima Konate resmi menjadi rekrutan terbaru Liverpool pada bursa transfe rmusim panas ini, tapi setelah transfernya diumumkan dua bulan lalu sampai sekarang, tidak ada pergerakan yang dilakukan The Reds, apa gerangan?

Tentu saja Liverpool bakal berjuang untuk kembali masuk dalam perburuan gelar juara pada kampanye musim 2021/22 mendatang, mengingat musim kemarin mereka gagal mengamankan satu gelar pun bahkan hampir tak lolos ke ajang Liga Champions Eropa.

Kegagalan The Reds musim kemarin tak terlepas dari ‘arogansi’ pelatih Jurgen Klopp yang enggan merekrut bek anyar pada bursa transfer. Alhasil, saat Virgil Van Dijk dan Joe Gomes cedera, tidak ada pemain lain yang bisa menggantikan peran keduanya.

Tak ingin mengulang kesalahan yang sama, Liverpool lantas merekrut bek anyar dari RB Leipzig, dia adalah Ibrahima Konate.

TETAP KALEM

Tapi tentu saja pertahanan bukan satu-satunya problem Liverpool, mereka bisa memanfaatkan bursa transfer musim panas ini untuk merekrut pemain di sektor lain. Hanya saja sampai sekarang tak ada pergerakan yang dilakukan The Reds.

Soal itu, Pelatih Jurgen Klopp pun buka suara, dimana dia mengaku situasinya sekarang masih tenang, klub tak akan terburu-buru menentukan pemain mana yang harus direkrut.

“Jika ada yang ingin pergi, dia bisa datang ke saya untuk memberitahu dan saya akan memikirkan itu. Belum ada yang datang sejauh ini, jadi sudah jelas tidak ada yang terburu-buru dari sisi pemain juga,”

“Ok, Konate, kami melakukannya terlalu dini, tapi ini sungguh bursa transfer yang sangat tenang. Mari lihat apa yang bakal terjadi. Tapi saat ini, semuanya punya kesempatan untuk membuat saya terkesan dan harapannya mereka melakukan itu,” ujarnya dikutip dari the Mirror.

ANTUSIAS JELANG MUSIM BARU

Lebih lanjut, Jurgen Klopp mengungkapkan bahwa dia sangat antusias jelang berlangsungnya kampanye musim baru dikarenakan para penonton akan kembali mengisi tribun stadion.

“Sejujurnya, kesan terakhir saya adalah salah satu yang pernah saya alami dalam hidup. 10 ribu [fans] melawan Crystal Palace terasa seperti 150 ribu, jadi terima kasih lagi untuk itu – buat siapapun yang ada di sana,”

“Saya tidak sabar untuk ini. Itulah hal terbaik saya lihat selama Euro. Kami bisa berbicara soal sepak bola di Euro, soal banyak hal, namun melihat orang-orang di stadion, rasanya sungguh menyenangkan,” pungkasnya.

Bakal Gabung MU, Raphael Varane Sudah Pamitan Dengan Real Madrid

Kabar transfer Raphael Varane menuju Manchester United tampaknya akan semakin mendekati kenyataan. Menurut informasi terkini yang beredar, bek Tim Nasional Prancis itu sudah berpamitan dengan Real Madrid karena akan menuntaskan kepindahannya ke Old Trafford.

Sebagaimana diketahui, Raphael Varane memang jadi perbincangan belakangan ini terkait dengan masa depannya di Real Madrid.

Bagaimana tidak? Pemain Tim Nasional Prancis tersebut tak kunjung memperpanjang kontraknya di Santiago Bernabeu, padahal kontrak tersebut akan kadaluwarsa pada musim panas tahun 2022 mendatang.

Sejumlah raksasa Eropa pun dikaitkan dengan bek berusia 28 tahun tersebut, terutama runner up Premier League musim kemarin, Manchester United. Bahkan berdasarkan perkembangan rumor yang terdengar, Setan Merah sudah semakin dekat untuk mendapatkan jasa Varane.

SUDAH PAMITAN

Salah satu media Spanyol, Athletic mengklaim bahwa transfer Varane menuju Old Trafford sudah semakin mendekati kenyataan. Mereka mengklaim bahwa Pemain Tim Nasional Prancis sejatinya telah berpamitan kepada pihak Real Madrid untuk menuntaskan kepindahannya ke Manchester United.

Masih dari laporan yang sama, disebutkan juga bahwa Agen Varane telah bertemu dengan Florentino Perez selaku Presiden Real Madrid. Dalam pertemuan tersebut, sang Agen mengutarakan keinginan kliennya untuk mencari tantangan baru setelah 10 tahun membela Los Blancos.

Florentino Perez sebenarnya tidak ingin kehilangan Varane, terlebih tim baru saja ditinggalkan Sergio Ramos, tapi tidak ada pilihan lagi, kecuali klub rela kehilangan sang bek dengan cuma-cuma pada bursa transfer musim panas tahun 2022 nanti.

NEGOSIASI BERLANGSUNG

Athletic juga melansir bahwa saat ini sedang berjalan negosiasi antara Manchester United dengan Real Madrid terkait transfer Raphael Varane pada musim panas ini. Real Madrid dilaporkan membanderol Varane sekitar 50 juta Euro. Mereka menilai harga itu sepadan untuk jasa Varane yang notabene salah satu bek tengah terbaik dunia.

Namun, Manchester United tidak akan langsung menerima banderol tersebut dan dipercaya akan menawarnya sampai ke angka 45 juta euro.

Adapun, Setan Merah sendiri telah merekrut dua pemain baru pada musim panas ini, antara lain Jadon Sancho dan Tom Heaton.

Jose Mourinho Akui Terlalu Keras Terhadap Luke Shaw

Juru taktik anyar AS Roma, Jose Mourinho kerap bersitegang dengan para pemainnya sendiri, dan yang menarik pria asal Portugal baru mengakui bahwa dia terkadang terlalu keras terhadap para mantan pemainnya tersebut, seperti Luke Shaw misalnya.

Luke Shaw sendiri menjadi salah satu juru kunci keberhasilan MU finish sebagai runner up Premier League dan Liga Europa pada kampanye musim 2020/21 kemarin. Performa apiknya tersebut kemudian direplikasi kala membela Timnas Inggris di ajang Piala Euro 2020 kemarin.

Kontribusinya atas keberhasilan Inggris melangkah ke Final Piala Euro pun tak bisa diabaikan, dimana sang bek menyumbang tiga assist, dan mencetak gol di babak final melawan Italia. Sayangnya saja, Shaw harus menelan kenyataan pahit karena timnya kalah adu penalti dalam babak final tersebut.

BELUM SIAP MENTAL

Meski demikian, sosok Luke Shaw tetap tidak terlepas dari kritikan Jose Mourinho, bahkan sang bek sendiri mengaku sampai sudah terbiasa mendengar kritikan dari Pria asal Portugal, dia tidak terima dan membalas kritikan tersebut di depan Jurnalis.

Soal itu, Mourinho mengakui bahwa dia mungkin terlalu keras terhadap Luke Shaw, tapi di satu sisi juga sang pemain belum siap secara mental untul menerima perlakuan seperti itu.

“Mungkin saya terlalu keras kepada dia, dan dia belum siap untuk itu. Saya selalu mencoba untuk menemukan apa yang saya anggap sebagai kelemahan dari seorang pemain, dan kadang sukses, di waktu lainnya tidak,” ungkapnya kepada talkSPORT.

BUKAN METODE UTAMA

Membentuk karakter dan kekuatan mental pemain dengan cara seperti itu memang dilakukan Jose Mourinho sejak lama, tapi itu bukan satu-satunya metode yang dia lakukan, terkadang juga menunjukkan rasa empati kepada pemainnya agar mereka bisa mengeluarkan potensi terbaik di atas lapangan.

“Di waktu lain saya bisa menciptakan rasa empati kepada pemain dan mengeluarkan kemampuan terbaik mereka,”

“Di waktu lain, cara terbaik untuk mengeluarkan kemampuan terbaik dari mereka adalah dengan tidak menciptakan rasa empat dan mencoba membuat gesekan dan memberikan tekanan kepada pemain,” kata Mourinho lagi.

Lionel Messi Diklaim Menderita Karena Terus Dibandingkan Dengan Maradona

Diego Maradona Jr, Anak kandung dari Legenda Argentina Diego Maradona mengklaim bahwa perbandingan yang terus digaung-gaungkan publik antara ayahnya dengan Lionel Messi membuat mega bintang Barcelona itu menderita.

Sebenarnya, publik juga memiliki sejumlah alasan kenapa mereka terus membandingkan antara Lionel Messi dengan Diego Maradona, termasuk salah satunya adalah karena keduanya merupakan sosok pemain hebat asal Argentina.

Di samping itu, Messi dan Maradona juga memiliki fisik yang mirip, postur keduanya sama-sama pendek dan secara kebetulan juga sama-sama mengandalkan kaki kiri. Soal skill, mereka juga disebut sama dahsyatnya. Kontrol bola, dribel, teknik, sampai insting mencetak golnya juga disebut mirip.

Belum lagi mengingat fakta bahwa Maradona pernah bermain di Barcelona, sedangkan Messi sudah menjadi legenda hidup raksasa Catalan tersebut.

TAK SEHARUSNYA DIBANDINGKAN

Namun menurut Diego Maradona Jr, dari banyak kesamaan tersebut tidak seharusnya Messi terus dibandingkan dengan mendiang ayahnya, karena masing-masing memiliki karakter sendiri. Dia bahkan meminta publik untuk menghentikan perbandingan tersebut karena itu hanya membuat Messi menderita.

“Diego adalah Diego dan Messi adalah Messi. Orang yang mengkritik Messi tidak mengerti apa-apa tentang sepak bola. Ia sangat menderita ketika mereka membandingkannya dengan ayah saya,” tegasnya pada TyC Sports.

LEGA LIHAT MESSI JUAR COPA

Adapun, Messi sendiri baru saja berhasil membawa Argentina juara di ajang Copa America 2021 setelah mengalahkan Brazil di babak final. Faktanya ini adalah trofi pertama Messi di level Internasional bersama Tim Tango, nasib yang sangat berbeda dengan Maradona yang sudah meraih gelar Juara Dunia di masa lampau.

Messi telah melalui empat babak final di berbagai ajang Internasional sebelum akhirnya meraih trofi pertamanya di usia 34 tahun. Terkait hal tersebut, Diego Maradona Jr mengaku turut lega.

“Itu adalah kelegaan yang luar biasa. Para pemain itu pantas mendapatkannya. Kami baru saja menang lagi setelah ayah saya meninggal,”

“Saya terlalu merindukannya. Saya merindukan pembicaraan. Jika ada sesuatu yang sangat membantu kami menjalin ikatan, itu adalah kecintaan pada jersey Argentina,” tandasnya.

Timnas Inggris Disarankan Rekrut Arsene Wenger Untuk Piala Dunia 2022

Setelah kegagalan di Final Piala Euro 2020 kemarin, Tim Nasional Inggris mendapatkan saran dari Richard Keys. Presenter Olahraga asal Inggris tersebut menyarankan pihak FA untuk memecat Gareth Southgate dan menunjuk Arsene Wenger sebagai penggantinya.

Sebenarnya, Gareth Southgate sempat panen pujian setelah berhasil mengantarkan Inggris ke babak Final Piala Euro 2020, namun apa yang terjadi setelahnya membuat situasinya berbalik.

Pada babak final yang digelar di Wembley Stadium, London, Southgate dan timnya harus mengubur mimpi juara untuk pertama kali sejak 1966 setelah dikalahkan Italia lewat drama adu penalti.

Sebanyak tidak eksekutor penalti Inggris gagal menjalankan tugasnya, antara lain Marcus Rashford, Jadon Sancho dan Bukayo Saka. Ketiganya adalah para pemain muda yang minim akan pengalaman, sehingga tidak sedikit pihak yang kemudian mengkritik Gareth Southgate karena telah memilih ketiga pemain tersebut untuk maju sebagai eksekutor.

SOUTHGATE TERLALU PINTAR

Richard Keys adalah salah satu pihak yang mengkritisi Southgate, dimana menurutnya sang pelatih terlalu pintar sehingga sampai harus berpikir keras siapa yang akan maju sebagai eksekutor dan akhirnya salah memilih.

“Seluruh turnamen menunjukkan Southgate sedikit terlalu pintar. Bahkan adu penalti terlalu dipikirkan. Saya merasa [Marcus] Rashford dan [Jadon] Sancho – dianggap tidak cukup baik untuk berperan dalam 120 menit – tetapi diminta untuk maju dan mempermalukan diri mereka sendiri dalam adu penalti. Maaf. Itu keputusan buruk.” tulis Keys di blognya.

Lebih lanjut, Keys bahkan berani mengatakan bahwa timnas Inggris tidak akan bisa berbicara lebih banyak lagi pada kompetisi berikutnya jika masih ditangani Gareth Southgate.

“Jadi, mereka yang terbaik dalam latihan? Terus? Sentuhan pertama Anda pada bola di malam hari adalah pena? Tapi saya tidak bisa melihat Inggris Bisa melangkah lebih jauh dengan Southgate.” Tambahnya.

ARSENE WENGER ADALAH SOLUSI

Untuk alasan tersebut, Keys menyarankan FA untuk menunjuk Arsene Wenger sebagai pengganti Southgate, dia yakin pria asal Prancis adalah solusi yang tepat.

“Jika itu adalah pilihan saya, saya akan menggerakkan langit dan bumi untuk membujuk Arsene Wenger untuk mengambilnya. Dia benar-benar bisa mengakhiri semua luka.” Tambahnya.

Italia dan Argentina Akan Jumpa di Maradona Super Cup?

Setelah berhasil menjadi juara di benua masing-masing, Argentina yang menjadi juara Copa America dan Italia yang menjadi juara Euro kemungkinan bisa saling berhadapan satu sama lain dalam pertandingan bertajuk Maradona Super Cup.

Sebagaimana diketahui, Argentina berhasil menjuarai Copa America 2021 setelah mengalahkan rival abadinya, Brazil pada partai final yang digelar di Maracana, Rio De Janeiro, Minggu pagi (11/07) dengan skor 1-0. Faktanya, ini adalah gelar pertama bagi Tim Tango sejak tahun 1993 silam.

Kemudian di hari berikutnya, giliran Italia yang berhasil menjadi juara Euro 2020 berkat kemenangan mereka dalam drama adu penalti melawan Inggris di babak final. Pertandingan tersebut sendiri digelar di Stadio Wembley, London.

DICETUSKAN MEDIA ARGENTINA

Terkait keberhasilan kedua tim, sebuah media Argentina, Diario Ole kemudian mencetuskan ide untuk diadakannya pertandingan antara Tim Tango melawan Gli Azzurri dalam sebuah laga bertajuk Maradona Super Cup.

Ide ini berkaitan dengan Kompetisi Piala Dunia Antarklub, yang mempertemukan jawara di masing-masing benua, hanya saja kompetisi tersebut berlaku pada level klub, sedangkan Level Negara, belum ada kompetisi serupa.

Sedangkan nama Maradona Super Cup sendiri terinsipirasi dari legenda Argentina, Diego Maradona yang memiliki hubungan erat dengan Italia dan Argentina. Bahkan jika terwujud, nantinya laga bisa digelar di Diego Armando Maradona Stadium, entah itu yang berada di Argentina, atau di Kota Naples Italia.

SULIT TERWUJUD

Adapun, dua badan Sepakbola yang menaungi kedua kompetisi tersebut yakni CONMEBOL dan UEFA dikabarkan cukup antusias dengan ide yang dicetuskan Diario Ole. Kendati demikian, ide dari Diario Ole ini tampaknya akan sangat sulit terealisasi mengingat padatnya jadwal sepak bola internasional yang sudah tersusun.

Seperti diketahui, setelah dua kompetisi tersebut berakhir, para pemain akan menikmati masa liburannya sejenak sebelum kemudian bergabung dengan klub masing-masing untuk persiapan Pra Musim.

Setelah itu, mereka akan menjalani latihan Pra Musim, belum lagi jadwal pertandingan Liga Champions Eropa, Liga Europa dan Kualifikasi Piala Dunia 2022. Kita nantikan saja, apakah Maradona Super Cup Ini bisa digelar atau tidak.

Inilah Daftar Tim yang Lolos Perempat Final Euro 2020

Enam pertandingan 16 besar Euro 2020 telah selesai. Dengan demikian terdapat enam tim yang berhak lolos ke babak berikutnya, yakni perempat final Euro 2020. Pertandingan semakin seru dan banyak yang menantikannya. 

Daftar Tim yang Lolos Perempat Final Euro 2020

Banyak kejutan yang terjadi dalam pertandingan euro musim ini. Misalnya saja kejutan dalam laga Prancis vs Swiss. Prancis harus mengakui kekalahannya setelah gagal beradu penalti. Setelah menyamakan kedudukan dan beradu extra time tidak ada perubahan skor. 

Kemudian berlanjut adu penalti. Sehingga Prancis harus mengakui kekalahannya dengan skor 4-5.

Kemudian tim Inggris dan Ukraina menjadi tim yang lolos terakhir ke babak perempat final pertandingan euro 2020. Pasalnya Ukraina mengalahkan Swedia dengan skor 1-2. Sementara tim Inggris menyingkirkan lawannya, Jerman dengan skor 2-0.

Kemudian Ceko juga membuat fans sepak bola tidak menyangka atas kemenangannya hingga masuk perempat final. Ceko berhasil menyingkirkan lawan-lawannya, yang notabene berstatus sebagai tim raksasa. Tim sepakbola dari Ceko berhasil menghentikan langkah tim unggulan lainnya.

Salah satu diantaranya adalah tim raksasa dari Belanda. Ceko mampu mematahkan mimpi Belanda untuk mengukir prestasi terbaik dalam pertandingan euro kali ini.

Hingga saat ini sudah terdapat enam tim yang mendapatkan slot untuk maju babak perempat final euro 2020 nanti. Kemudian masih terdapat dua pertandingan lagi untuk menentukan satu slot dari sisanya. 

Tim-tim yang sudah lolos antara lalin, Denmark, Italia, Republik Ceko, Belgia, Spanyol dan Swiss. 

Jadwal Perempat final Pertandingan Euro 2020

Tiga laga sudah dipastikan untuk terjadwalkan. Delapan tim yang sudah lolos ke perempat final kemudian akan saling berhadapan.

Untuk hari Jumat, 2 Juli 2021 pukul 23.00 WIB pertandingan antara Swiss dan Spanyol. Kemudian pada Sabtu, 2 Juli 2021 jam 02.00 WIB Belgia akan berhadapan dengan Italia, lalu pada hari yang sama Republik Ceko akan beradu dengan Denmark pukul 23.00 WIB. Pada hari Minggu,  4 Juli 2021 jam 02.00 WIB, Inggris atau Jerman

Pertandingan-pertandingan akhir perempat final euro 2020 ini sudah diyakini akan berlangsung sangat seru. Terutama duel antara Jerman vs Inggris. Tunggu saja permainan luar biasa dari tim-tim yang tersisa, akan memanjakan mata para penggemar dari sepak bola dunia.