Neymar Memang Hebat, Tapi Dia Terlalu Manja

Neymar Memang Hebat, Tapi Dia Terlalu Manja

Mantan pemain Paris Saint-Germain, Edouard Cisse melayangkan kritik pedas kepada bintang Brazil, Neymar Jr terkait dengan performa sang pemain dalam duel melawan Rennes kemarin. Apa katanya?

Paris Saint-Germain memainkan journee ke-9 Ligue 1 Prancis pada akhir pekan kemarin melawan Rennes. Secara mengejutkan, dalam pertandingan tersebut tim arahan Mauricio Pochettino takluk dengan skor 0-2.

Tentu saja kekalahan tersebut membuat para pemain Paris Saint-Germain disoroti, mengingat fakta bahwa tim terdiri dari para pemain bintang sekelas Messi, Neymar, Mbappe, Ramos dan masih banyak lagi.

Namun dari sekian pemain Les Parisiens, nama Neymar adalah yang paling sering dikritik. Ya, performa Neymar dalam pertandingan tersebut dikritik habis oleh banyak pihak.

Bahkan, media Prancis Le Parisien memberikan rating yang sangat rendah untuk penampilan eks Barcelona dalam pertandingan tersebut, dengan rating 2,5 dalam skala 10.

TIDAK SEPERTI DI BARCELONA

Mantan pemain Paris Saint-Germain dan West Ham United, Edouard Cisse juga memberikan kritik pedas kepada Neymar. Dia mengakui bahwa pemain Brazil itu adalah pemain hebat, hanya saja sikapnya terlalu manja, suka memerintah dan tak terarah.

Sikap Neymar ini dinilai berbeda dibanding saat sang pemain masih berkostum Barcelona, dimana saat itu tugasnya adalah membuka ruang di lini pertahanan lawan.

“Dia adalah pemain hebat, tidak ada yang bisa membantahnya. Tapi, dia telah menjadi anak nakal yang manja dan dia memerintah semua orang di sekitarnya,”

“Di Barcelona ada sebuah struktur. Neymar memiliki gaya permainan yang lebih bersih, meskipun dia lebih banyak menggiring bola. Tugasnya adalah mendobrak garis pertahanan, membuat perbedaan dan mengoper bola ke jenderal Lionel Messi. Dia melakukannya dengan sangat baik sehingga dia menjadi alter egonya,” kata Cisse, seperti dikutip The Sun.

TERLALU BEBAS AKHIRNYA BABLAS

Kini di Paris Saint-Germain Neymar seperti dibeirkan kebebasan untuk melakukan apa yang dia inginkan, akhirnya sang pemain pun malah tersesat.

“Di Paris, mereka memberinya kunci dan mereka membiarkan melakukan apa yang dia inginkan. Dalam suatu momen, dia tersesat,” kata Cisse, yang memperkuat PSG dari 1997 hingga 2007.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *