Solskjaer Mengeluh Soal Jatah Penalti Manchester United Musim Ini

Pelatih Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer tampaknya masih belum terima soal beberapa keputusan wasit yang enggan memberi hadiah penalti kepada timnya. Menurut Ole, wasit tampaknya terpengaruh komentar Jurgen Klopp musim kemarin.

Tak ada yang salah dengan performa Manchester United di awal musim ini, justru mereka mencatatkan serangkaian performa apik belakangan. Hanya saja, Setan Merah memang jarang mendapatkan hadiah penalti dibandingkan musim kemarin.

Di tiga pertandingan terakhir masing-masing melawan Young Boyus di liga Champions, kemudian melawan West Ham United di ajang Premier League dan Carabao Cup, Solskjaer mengklaim harusnya wasit memberi hadiah penalti kepada timnya.

Khususnya pada partai terakhir di ajang Carabap Cup, dimana Manchester United kalah dari West Ham dengan skor akhir 0-1 dan tersingkir dari ajang tersebut. Solskjaer sepertinya tidak terima, dan menyebut harusnya pelanggaran mark Noble pada Jesse Lingard berbuah penalti.

KELUH KESAH SOLSKJAER

Kali ini, jelang pertandingan Premier league melawan Aston Villa, Solskjaer kembali menyinggung hal tersebut. Menurut pandangannya, Wasit musim ini lebih pelit memberi hadiah penalti kepada Manchester united dikarenakan protes beberapa pelatih musim kemarin.

“Kami hanya ingin mendapatkan apa yang memang pantas kami dapatkan. Kami harusnya mendapat tiga penalti pada dua laga terakhir. Anda beberapa manajer yang resah kalau kami mendapat penalti musim lalu dan setelah kejadian itu kami kesulitan,” keluh Solskjaer dikutip dari Express.

GARA-GARA JURGEN KLOPP

Well, Solskjaer memang tidak menyebutkan nama Manajer yang dia maksud, namun jelas itu adalah Jurgen Klopp. Pelatih Liverpool memang sempat protes dikarenakan Setan Merah sering kali mendapatkan hadiah penalti musim kemarin.

Solskjaer tidak mengiyakan nama pelatih yang dimaksud, namun dia mengakui bahwa sejak komentar tersebut, wasit lebih perhitungan dalam memberikan hadiah penalti kepada timnya.

“Saya rasa ada perbedaan besar setelah momen itu [komentar Klopp]. Kita hanya bisa pasrah pada keputusan wasit dan berharap mereka segera membuat keputusan yang benar,” tegas Solskjaer.

Kini, Manchester United akan berhadapan dengan Aston Villa dalam lanjutan Premier League.

Pep Guardiola Ungkap Alasan Kekalahan City dari Chelsea di Final UCL

Manchester City akan kembali menghadapi Chelsea untuk pertama kalinya setelah kekalahan di Final Liga Champions Eropa musim kemarin. Nah, jelang pertandingan tersebut pelatih Pep Guardiola berbicara soal alasan kekalahan timnya di final tahun lalu.

Di tahun 2021 ini, Manchester City dan Chelsea sudah bertemu tiga kali di tiga ajang yang berbeda, masing-masing adalah ajang Premier League, FA Cup dan Liga Champions Eropa.

Namun sialnya, di tiga pertandingan tersebut pasukan Pep Guardiola selalu kalah dari klub London, termasuk yang paling menyakitkan adalah pada partai final Liga Champions Eropa musim kemarin, dimana City sudah tinggal sedikit lagi meraih trofi UCL pertama mereka dalam sejarah.

Pertandingan tersebut berakhir dengan skor 1-0 kemenangan Chelsea atas pasukan Pep Guardiola.

SUDAH MAIN BAGUS, TAPI…

Berbicara lagi soal kekalahan di babak final Liga Champions Eropa tersebut, Pep Guardiola mengatakan bahwa sebenarnya para pemain manchester City sudah tampil bagus sepanjang pertandingan.

Hanya saja, mantan pelatih Barcelona ini merasa timnya sempat kurang presisi di akhir laga dan Chelsea juga tampil gemilang dengan transisi bola-bola panjang.

“Kami bermain di final yang luar biasa. Kami kalah, tapi kami menyuguhkan final luar biasa,”

“Kami sedikit kurang presisi di bagian akhir pertandingan, kami kalah dalam duel second balls karena transisi mereka sangat bagus. Mereka merebut bola lagi-dan lagi, lalu membuat transisi cepat,” kata Pep dikutip dari Manchester Evening News.

PENGAKUAN PEP

Lebih lanjut, Pep Guardiola yang sudah pernah memenangkan dua trofi Liga Champions Eropa bersama Barcelona kembali menyanjung kualitas Chelsea yang menurutnya memang menguasai hampir semua lini di partai final kemarin.

“Struktur defensif mereka sangat bagus, ketangguhan fisik mereka, pergerakan mereka, kualitas mereka dalam ruang-ruang sempit. Mereka mengontrol setiap departemen, karena itulah pertandingan berjalan sulit di final Liga Champions melawan tim luar biasa.”

“Kami sudah bermain dengan sangat berani dan karakter kami, tapi sayangnya kami tidak cukup bagus,” lanjut Pep.

Kini, Kedua tim akan saling berhadapan lagi dalam lanjutan Premier League 2021/22. Duel tersebut akan berlangsung pada Sabtu malam WIB nanti, 25 September 2021.

Waduh, Naby Keita Tolak Perpanjangan Kontrak Baru dari Liverpool

Raksasa Premier League, Liverpool terancam kehilangan salah seorang gelandang mereka, Naby Keita. Pemain asal Jenewa itu dilaporkan telah menolak perpanjangan kontrak anyar yang diajukan manajemen The Reds. Apakah ini pertanda sang pemain bakal hengkang?

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa Naby Keita sendiri merupakan salah satu pemain yang direkrut Liverpool pada bursa transfer musim panas tahun 2018 lalu. Gelandang berusia 26 tahun ini dibeli dari klub Jerman, RB Leipzig.

Saat itu, Naby Keita menyepakati kontrak berdurasi lima tahun di Anfield, yang mana berarti kontrak tersebut kini tersisa dua tahun lagi. Tentu saja, Liverpool tidak tinggal diam, mengingat klub sudah pernah kecolongan pada kasus Wijnaldum, akhirnya mereka berencana memberikan kontrak baru.

TIDAK BAHAGIA

Ya, Menurut laporan yang terdengar, manajemen Liverpool sedang berusaha memperpanjang kontrak Naby Keita. Namun, Bild melaporkan bahwa proses negosiasi kontrak anyar tersebut berlangsung alot, yang pada akhirnya berujung pada penolakan dari sang pemain.

Masih dari laporan yang sama, Naby Keita telah mengungkapkan alasan dibalik keputusannya menolak tawaran kontrak baru tersebut, bahwa dia merasa tidak bahagia di Liverpool.

Alasannya, tidak lain karena sang pemain jarang mendapatkan kesempatan tampil di tim utama Liverpool. Rasanya wajar jika dia memutuskan untuk menolak tawaran kontrak baru tersebut.

TAK TUTUP PINTU

Meski demikian, Bild juga mengklaim bahwa sebenarnya Naby Keita tak sepenuhnya menutup pintu sepenuhnya untuk Liverpool. Gelandang Jenewa itu bisa saja bertahan dan menyepakati kontrak baru tapi dengan beberapa syarat yang bisa dijamin.

Salah syarat yang diminta Naby Keita adalah agar dia mendapat kesempatan bermain reguler di tim utama The Reds. Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, Keita bakal menolak terus semua tawaran perpanjangan kontrak dari Liverpool.

Sebenarnya, Naby Keita sendiri masih cukup bagus dan bisa diandalkan, buktinya pada pertandingan melawan Norwich City pekan lalu, sang pemain berhasil mencetak gol spektakuler.

Berikutnya, Liverpool akan bertandang ke markas Brentford dalam lanjutan Premier League, belum diketahui apakah Naby Keita bakal diturunkan dalam pertandingan tersebut atau tidak.

Jadon Sancho Masih Belum Nyetel di MU, Begini Pendapat Solskjaer

Semenjak direkrut dari Borussia Dortmund pada musim panas kemarin hingga sekarang, Jadon Sancho masih belum juga menunjukkan performa apik di Manchester United. Lantas, apa kata pelatih Ole Gunnar Solskjaer mengenai hal tersebut?

Seperti diketahui, Jadon Sancho pada akhirnya bergabung dengan Manchester Unitedpada bursa transfer musim panas kemarin setelah ditebus dari Borussia Dortmund lewat mahar cukup tinggi 85 Juta Euro.

Tentu saja, besar harapan Winger Timnas Inggris tersebut tampil cemerlang bersama Manchester United, pasalnya bersama Dortmund dia tampil apik bahkan sejatinya sudah jadi incaran klub sejak musim panas tahun 2019 lalu.

Tapi sayangnya, sejak debutnya hingga sekarang, Jadon Sancho belum menunjukkan performa yang meyakinkan. Sang pemain belum kunjung mencetak gol maupun assist kepada Manchester united.

TIDAK TERLALU CEMAS

Saat ditanya tentang hal tersebut, pelatih Ole Gunnar Solskjaer mengaku tidak cemas sama sekali, karena bagaimanapun sang pemain juga sudah berusaha tampil maksimal.

“Saya tidak bisa mengeluhkan usaha yang telah ia perbuat,” buka Solskjaer kepada Viaplay.

Lebih lanjut, Solskjaer merasa apa yang diperlihatkan Jadon Sancho itu masih dalam batas wajar mengingat sang pemain sendiri juga belum mendapatkan menit bermain yang cukup. Nanti, seiring berjalannya waktu sang winger bakal menunjukkan performa terbaiknya.

“Saya rasa masalahnya ada pada ritme dan juga kepercayaan diri. Ia belum mengeluarkan performa terbaiknya karena ia belum terlalu banyak bermain,” tambahnya.

VERSUS WEST HAM

Jadon Sancho sendiri memang jarang mendapatkan kesempatan bermain, akan tetapi dalam laga melawan West Ham united di ajang Carabao Cup dinihari WIB tadi, eks Dortmund itu tampil sejak menit pertama.

Terlepas dari kekalahan yang diderita timnya, Solskjaer cukup senang bisa memberikan menit bermain lebih banyak kepada Sancho.

“Saya senang memberikannya jam bermain, namun sayangnya kami tidak mendapatkan hasil yang bagus. Jadi seperti yang saya bilang, ia memiliki masalah dalam kualitas, namun tidak dengan usaha,” ujarnya.

Meski begitu, Jadon Sancho diragukan turun sebagai starter lagi pada laga lanjutan Premier League akhir pekan besok, dimana Manchester United akan menghadapi Aston Villa.

AC Milan Tak Hanya Incar Tiket Liga Champions, Tapi Juga Scudetto!

Salah seorang penggawa andalan AC Milan musim ini, Alexis Saelemaekers menegaskan bahwa target timnya di musim 2021/22 ini bukan hanya untuk finish di tiga besar klasemen akhir tapi juga meraih gelar Scudetto.

Dinihari WIB tadi (23/09), AC Milan melanjutkan tren positif mereka di musim 2021/22 dengan mengalahkan Venezia. Pertandingan giornata ke-5 Serie A Italia tersebut dimenangkan Rossoneri dengan skor telak 2-0.

Faktanya, kemenangan itu membuat AC milan sudah mengoleksi 13 poin dari lima pertandingan Serie A Italia. Singkatnya, mereka tak terkalahkan dalam 5 laga tersebut, dengan meraih 4 kemenangan. Dengan 13 poin, Rossoneri pun berdiri sejajar dengan sang pemuncak klasemen, Inter Milan.

CUKUP PERCAYA DIRI

Dalam pertandingan tersebut, Saelemaekers sendiri bermain sejak pertengahan babak pertama, dimana dia cukup senang dengan performanya sepanjang laga meski tak menyumbang gol maupun assist.

Soal penampilannya tersebut, Saelemaekers mengaku cukup senang, dia merasa percaya diri berkat kepercayaan yang diberikan pelatih Stefano Pioli.

“Jelas, pekerjaan yang dilakukan oleh pelatih dan kepercayaan yang dia miliki pada saya memang membantu saya untuk tumbuh, tetapi begitu juga dengan tim. Kami banyak berbicara, kami adalah tim muda dan saling membantu. Penting untuk memiliki lingkungan itu,”

“Karakteristik saya sedikit lebih defensif daripada Rafael Leao dan Ante Rebic, tetapi pada saat yang sama saya juga suka menyerang, jadi saya bisa melakukan keduanya.” ujar Saelemaekers kepada Sky Sport Italia.

TARGET SCUDETTO

Awalan musim yang sempurna ini tentu saja bagus untuk AC Milan, memperbesar peluang mereka meraih tiket ke ajang Liga Champions Eropa lagi musim depan.

Akan tetapi, Saelemaekers menegaskan bahwa timnya tidak hanya mengincar peringkat empat besar, melainkan juga mengincar gelar Scudetto di akhir musim.

“Tim yang kompetitif selalu ingin menang, dan itulah yang akan kami coba lakukan musim ini. Kami tidak memulai kompetisi untuk finis kedua atau ketiga,”

“Kami akan menjalaninya satu per satu dan melihat apa yang terjadi, tetapi kami mengincar yang teratas.” tutur Saelemaekers.

Solskjaer Sebut Manchester United Harusnya Dapat Hadiah Penalti

Pelatih Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer kembali mengkritik performa wasit, kali ini dalam laga melawan West Ham United dinihari WIB tadi. Kembali, menurut Solskjaer harusnya sang pengadil memberi hadiah penalti kepada tim asuhannya.

Dinihari WIB tadi (23/09) Manchester United memang berhadapan West Ham United pada putaran ketiga Piala Liga atau Carabao Cup. Dalam pertandingan yang berlangsung di Old Trafford tersebut, secara mengejutkan Setan Merah kalah dengan skor akhir 0-1.

Gol semata wayang dalam duel tersebut tercipta pada menit ke-9 lewat aksi Manuel Lanzini.

PELANGGARAN YANG TAK BISA DIBANTAH

Namun tampaknya pelatih Ole Gunnar Solskjaer tidak bisa terima dengan kekalahan tersebut. Selepas pertandingan, sang juru taktik melayangkan protes terhadap wasit.

Menurut dia, harusnya Manchester United mendapatkan hadiah penalti setelah Jesse Lingard dijatuhkan Mark Noble dalam kotak terlarang.

“Itu jelas penalti untuk Jesse Lingard lagi, Mark Noble jatuh dan menariknya. Anda tidak bisa membantahnya,” ucap Solskjaer.

ROTASI PEMAIN

Adapun dalam pertandingan tersebut, pelatih Ole Gunnar Solskjaer menerapkan kebijakan rotasi pemain dengan menepikan para pemain utama. Hasilnya, Manchester united telan kekalahan dan kehilangan satu gelar juara musim ini.

Namun, Solskjaer sama sekali tidak menyesali keputusannya tersebut, menurutnya Rotasi pemain memang perlu dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada mereka yang jarang diturunkan sebagai starter.

“Setiap pertandingan itu penting. Tetapi, Anda bisa melihat dari pemilihan pemain pada kompetisi ini, sejak saya berada di sini, itu adalah untuk memberi menit bermain bagi mereka yang membutuhkannya, karena kami tahu ini adalah musim yang sangat panjang,”

“27 tendangan menunjukkan bahwa semua orang mencobanya dengan baik. Kami tidak bisa menyalahkan sikap sama sekali. Sedikit keberuntungan bisa saja terjadi dan sedikit lebih berkualitas, mungkin keputusan di sini atau di sana yang sepertinya tidak kami dapatkan saat ini,” kata Solskjaer.

Bagaimanapun, Setan Merah harus melupakan kekalahan dari West Ham United tadi dan fokus untuk pertandingan berikutnya melawan Aston Villa di ajang Premier League.

Performa Anthony Martial Lawan West Ham Tuai Kritikan Pedas

Anthony Martial kembali mendapat kesempatan tampil musim ini, tepatnya dalam laga melawan West Ham United di ajang carabao Cup dinihari WIB tadi. Sayangnya, penyerang Prancis itu tidak memanfaatkan kesempatan tersebut dengan baik, dia pun malah jadi sasaran kritik.

Sebagai informasi, Manchester United memang kembali berhadapan dengan West Ham United pada putaran ketiga Piala Liga atau Carabao Cup. Duel tersebut sendiri berlangsung dinihari WIB tadi (23/09).

Dalam pertandingan tersebut, pelatih Ole Gunnar Solskjaer memang melakukan rotasi besar-besaran, dia menurunkan beberapa pemain yang baru pulih dan jarang mendapat kesempatan bermain, termasuk diantaranya Anthony Martial.

Tapi sayang sekali, penyerang Tim Nasional Prancis ini gagal memanfaatkan kesempatan tersebut. Alih-alih mencetak gol dan menuai pujian, Martial justru mendapati kritikan dari salah seorang mantan pemain manchester United, Dion Dublin.

TIDAK MELAKUKAN APAPUN

Menurut Dion Dublin, mantan pemain AS Monaco tersebut tampil jauh dari ekspektasi, bahkan dia melihat Martial tidak melakukan apapun sepanjang pertandingan. Tak hanya itu, secara keseluruhan menurutnya Martial memang belum berbuat banyak untuk Manchester United.

“Kita perlu melihat lebih banyak dari Anthony Martial, kita telah mengatakannya berkali-kali sebelumnya tetapi dia tidak membantu perjuangannya,”

“Saya ingin melihatnya berkeringat dan memasukkan bola ke belakang gawang. Dia belum melakukan cukup banyak sejak berada di United, Anda melihat kilatan dan berpikir itu adalah awal, lalu dia tidak melakukan apa-apa,” ujar Dublin.

TIDAK BEKERJA KERAS

Kritikan dari Dion Dublin tidak sampai disitu, lebih pedas lagi menurutnya Martial tidak memiliki etos kerja keras sama sekali sepanjang pertandingan tadi.

“Bahasa tubuhnya mengerikan untuk dilihat, dia tidak ingin berlarian dan bekerja keras untuk menjadi pemain nomor 9 Manchester United,”

“Ada terlalu banyak bagian dalam pertandingan di mana Manchester United tidak melakukan cukup usaha, pergerakan mereka di sepertiga akhir lapangan buruk.” tutur Dublin.

Manchester United sendiri pada akhirnya kalah dengan skor tipis 0-1, dan secara otomatis tersingkir dari ajang tahunan tersebut. Dengan begitu melayang sudah peluang raih satu trofi musim ini

Arsene Wenger Siap Melatih Lagi, Siapa Yang Mau Nih?

Pelatih Legendaris Arsenal, Arsene Wenger saat ini memang sedang bekerja sebagai petinggi FIFA, namun statusnya itu ternyata tak membuat Pria asal Prancis menutup sepenuhnya pintu untuk kembali melatih.

Sebagai informasi, Arsene Wenger meninggalkan dunia kepelatihan sejak tahun 2018 lalu, tepat setelah mundur dari jabatannya sebagai pelatih Arsenal.

Sebagian besar karirnya di dunia kepelatihan dia habiskan bersama Klub London utara tersebut, dimana Wenger sudah disana sejak tahun 1996 dan memenangkan beberapa buah trofi.

Akan tetapi, menyusul serangkaian musim yang buruk dalam beberapa tahun terakhir, Wenger akhirnya memutuskan mundur pada musim panas tahun 2018, atau selepas berakhirnya musim 2017/18.

Setelah dinastinya di Arsenal berakhir, Wenger belum melatih lagi hingga sekarang. Dia sempat menjadi pandit sepakbola Inggris, tapi sejak tahun 2019 hingga sekarang, Wenger menjadi Kepala Pengembangan Sepak Bola Global.

TIDAK TERLALU NGEBET

Sebenarnya, Wenger sendiri sempat dikaitkan dengan Tim Nasional Swiss untuk menggantikan Vladimir Petkovic sebelum Euro 2020 kemarin berlangsung. Sayang, pada akhirnya Swiss menunjuk Muray Yakin untuk jabatan tersebut.

Meski tidak membenarkan kabar tersebut, Pria berusia 71 tahun ini tetap tidak memungkiri bahwa dia masih ingin bekerja sebagai pelatih lagi, hanya saja tidak ada keinginan berlebih.

“Secara keseluruhan kita harus menerima bahwa hari-hari kita akan berakhir pada tahap tertentu. Saya tidak mengesampingkannya [menjadi pelatih lagi], tetapi saya sepenuhnya fokus [pada FIFA] dan saya tidak terlalu khawatir tentang sisanya,” ujar Wenger.

SOAL USIA

Arsene Wenger sendiri saat ini sudah berusia 71 tahun, dimana pada usia tersebut umumnya seorang pelatih memang sudah pensiun. Banyak yang meragukan bahwa Wenger akan kembali ke kursi manajer, namun sang pelatih menegaskan bahwa kondisi fisiknya masih cukup fit.

“Selalu ada orang yang mengatakan ‘Anda terlalu tua’ jadi pada saat itu, mungkin saya pikir mereka benar. Tapi saya dalam kondisi yang baik dan saya belum sepenuhnya memutuskan untuk tidak melakukannya lagi.” tandasnya.

Yang jadi pertanyaan, tim mana yang bersedia menampung Arsene Wenger? Arsenal mungkin bisa mempertimbangkannya di tengah-tengah periode sulit mereka saat ini.

Mario Balotelli Lakukan Selebrasi Dengan Ejek Pelatih Lawan

Striker asal Italia, Mario Balotelli memang sudah tidak lagi berkarir di level top Eropa, meski begitu sikap bengalnya masih ada. Terkini, mantan pemain Inter Milan tersebut melakukan selebrasi yang tak biasa yakni mengejek pelatih tim lawan.

Balotelli sekarang bermain di liga Super Turki bersama Adana Demirspor. Nah, pada Rabu dinihari WIB tadi (22/09), klub tersebut berhadapan dengan Besiktas, Balotelli sendiri diturunkan sejak menit pertama.

Pada duel tersebut, Adana Demirspor sempat tertinggal tiga gol, sampai kemudian mereka berhasil membalas dengan tiga gol sehingga pertandingan berakhir dengan skor sama kuat 3-3.

EJEK PELATIH LAWAN

Balotelli adalah salah satu dari tiga pencetak gol tuan rumah, dimana pemain asal Italia itu menjebol gawang lawan di menit ke-79 untuk mengubah kedudukan menjadi 2-3.

Gol Balotelli ini terbilang indah, dia menendang bola dari luar kotak penalti, dimana laju bola sendiri melengkung indah hingga tidak bisa dijangkau oleh kiper besiktas.

Tapi, yang lebih menarik lagi adalah selebrasi yang dilakukan Mario Balotelli selepas mencetak gol tersebut. Awalnya dia merayakan golnya bersama rekan-rekan satu tim, tapi setelah itu dia berlari mendekati bench tim lawan kemudian mengejek pelatih Besiktas, Sergen Yalcin.

BALAS DENDAM

Awalnya, tidak ada yang tahu apa maksud dari selebrasi tersebut, tapi setelah melihat postingan Balotelli di Instagram, ternyata selebrasi itu merupakan aksi balas dendamnya terhadap Sergen Yalcin untuk sikap sang pelatih delapan tahun silam.

Perlu diketahui, pada tahun 2013 silam, Yalcin yang masih bekerja sebagai komentator memang sempat mengkritik habis Balotelli terkait dengan finishing backheel gagal yang dilakukan sang pemain saat masih membela Manchester City.

Saat itu, Yalcin menyebut Balotelli tidak punya otak dan harusnya sudah dikeluarkan dari tim.

“Dia tak punya otak, jika saya berada di posisi [Roberto] Mancini saya akan memecat dia,” ujar Yalcin kala itu.

Balotelli lantas mengunggah selebrasinya itu di Instagram dan menuliskan caption berikut:

“Kami memiliki otak dan terutama kami memiliki nyali dan hati. Hati yang sangat besar dan kami bangga akan hal itu.” kata Balotelli.

Soal Situasi Kepa Arrizabalaga, Begini Kata Thomas Tuchel

Thomas Tuchel angkat bicara soal Kepa Arrizabalaga di Chelsea, dimana penjaga gawang asal Spanyol tersebut tampak masih kesulitan bersaing dengan Benjamin Mendy.

Sebagaimana diketahui, Kepa Arrizabalaga bergabung dengan Chelsea pada musim panas tahun 2018. Saat itu, bisa dikatakan sang pemain direkrut dari Athletic Bilbao untuk menggantikan peran Thibaut Courtois.

Sayangnya, performa Kepa dianggap kurang memuaskan, bahkan sang pemain beberapa kali melakukan blunder fatal yang menyebabkan gawangnya kebobolan.

Hal tersebut membuat pihak Chelsea terpaksa merekrut seorang penjaga gawang anyar pada musim panas tahun 2020 lalu, dia adalah Edouard Mendy. Bersama dengan pria asal Prancis, gawang Chelsea jadi lebih jarang kebobolan.

SANJUNGAN TUCHEL

Meski demikian, belakangan ini Kepa lebih rajin diturunkan karena Edouard Mendy sedang berhalangan tampil karena cedera. Selama jadi andalan lagi, performa Kepa terbilang sangat bagus.

Bahkan dalam pertandingan melawan Tottenham Hotspur kemarin, yang bersangkutan berhasil mencatat cleansheet yang mana performanya ini mendapat sanjungan dari pelatih Thomas Tuchel.

“Kami memiliki dua kiper super kuat. Apakah kami butuh keduanya? Kami punya buktinya akhir pekan kemarin. Dia adalah faktor kunci yang membuat kami bisa mendapatkan clean sheet,” ujar Tuchel, dikutip dari Goal International.

KIPER TERMAHAL

Tentu saja yang bersangkutan senang karena mendapatkan kesempatan bermain lagi. Tuchel sadar akan hal tersebut, namun sang pemain juga paham kenapa keputusan ini dibuat.

“Dia terlihat gembira buat saya, dia mungkin tidak senang dengan situasinya, tapi dia senang pada tempat dia berada dan bagian yang ia mainkan dalam tim ini,” kata Tuchel.

Sebenarnya, Kepa Arrizabalaga sendiri direkrut Chelsea dengan mahar yang sangat tinggi 72 Juta Euro dari Athletic Bilbao. Dengan angkat tersebut, Kepa menjadi kiper termahal dunia.

Soal fakta tersebut, Thomas Tuchel mengaku tak peduli karena yang terpenting adalah apa yang bisa dilakukan sang pemain.

“Siapa yang peduli soal apa yang klub bayar? Memangnya kenapa? Uang tidak lagi penting sekarang. Pertanyaannya adalah apakah kami mampu memiliki dia sebagai penjaga gawang,” pungkasnya.