Harapan Alan Shearer Pada Pemilik Baru Newcastle United

Legenda Inggris, Alan Shearer tampaknya ikut senang dengan kabar kedatangan pemilik baru di bekas klubnya Newcastle United. Top Skorer sepanjang masa Premier League tersebut lantas mengungkapkan harapannya akan The Maghpies dibawah kepemimpinan baru.

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa Newcastle United sendiri sudah dipimpin oleh Mike Ashley selama kurang lebih 14 tahun lamanya. Dibawah kepemimpinannya, para fans lebih banyak mengkritik ketimbang memuji, sayang sekali kritikan itu seolah diabaikan begitu saja.

Pada tahun 2020 kemarin, sempat ada kabar gembira bagi para fans Newcastle United bahwa sebuah perusahaan ternama asal Arab Saudi, PIF berniat untuk mengambil alih kepemilikan saham terbesar di klub, tapi sayang sekali usaha mereka menemui jalan buntu.

Untung saja, beberapa hari yang lalu, usaha PIF membuahkan hasil, mereka telah mendapatkan izin dari Premier League dan otoritas terkait untuk membeli kepemilikan saham terbesar Newcastle seharga 300 Juta Poundsterling.

SUDAH MUAK DENGAN MIKE ASHLEY

Alan Shearer sendiri dikenal sebagai salah satu legenda ikonik Newcastle United, dimana saat kabar rencana PIF membeli The Maghpies mencuat di tahun 2020 kemarin, yang bersangkutan mengungkap keluh kesalnya akan situasi klub dibawah kepemimpinan Mike Ashley.

“Saya muak melihat seperti apa klub saat ini. Ini Sudah lama sekali. Ini adalah klub sepak bola yang hampa dan kosong.”

“Tidak ada harapan atau ambisi dan jujur saja saya muak dengan itu. Ini hanya sekadar copy, paste, dan ulang lagi. Begitu saja setiap musim,” kata Alan Shearer pada program Match of the Day, dikutip dari Express.

DALIH FINANSIAL

Dengan alasan kondisi finansial yang buruk, klub tidak bisa berbuat banyak dan akhirnya terus berkutat di papan tengah klasemen bahkan sempat terdegradasi.

“Mereka memberi pemain yang pernah berada di klub ini kontrak baru karena mereka tidak bisa menjualnya. Lalu mereka punya alasan tidak bisa membeli pemain lain karena mereka itu dibayar gaji.”

“Lebih murah menyimpannya di pembukuan daripada membeli pemain lain. Fans pantas mendapatkan yang lebih baik. Setiap manajer memiliki masalah yang sama. Seperti yang saya katakan, ini adalah copy, paste, dan ulangi setiap musim,” katanya Alan Shearer.

Gacor di Wales, Aaron Ramsey Sindir Metode Latihan di Juventus

Gelandang Juventus, Aaron Ramsey mengisyaratkan sindiran terhadap metode latihan Bianconneri dengan memberikan perbandingan pada performanya di Tim Nasional Wales, yang kontras dengan saat dia masih berada di Turin.

Aaron Ramsey sendiri bergabung dengan Juventus secara cuma-cuma setelah kontraknya di Arsenal berakhir pada tahun 2019 lalu. Namun, sejak bergabung hingga sekarang, yang bersangkutan memang jarang tampil karena cedera.

Namun tampak ada peningkatan kebugaran dalam diri Ramsey di awal musim ini. Gelandang berusia 30 tahun itu tampak lebih fit dan siap bermain di sepanjang musim 2021/22.

Kondisi bugar sang pemain tentu saja juga menguntungkan bagi Tim Nasional Wales yang memang menjalani beberapa pertandingan belakangan ini. Benar saja, mantan pemain Arsenal itupun tampak bermain lebih baik saat bersama dengan negaranya.

BERBEDA DENGAN DI TIMNAS

Saat ditanya tentang fakta bahwa performanya di Tim Nasional Wales tampak lebih meyakinkan dibanding saat masih berkostum Juventus, Ramsey pun seolah mengisyaratkan kritiknya terhadap metode latihan di klub Serie A Italia tersebut.

“Filosofi latihan dan metode latihan di klub saya berbeda dengan di sini [Wales]. Ada banyak orang yang sudah bertahun-tahun bekerja bersama sama di sini.” ujar Ramsey.

TAHU CARA MAKSIMALKAN POTENSI

Apa yang menjadi perbedaannya adalah bahwa di Tim Nasional Wales, pelatih seolah tahu bagaimana cara memaksimalkan potensi dirinya sehingga dia bisa bermain dalam laga beruntun tanpa mendapati cedera sekalipun.

Di Juventus, Ramsey sendiri memang dikenal sebagai pemain yang rentan cedera, sehingga melihatnya tetap bermain tiap pekan sangat jarang terjadi.

“Mereka tahu cara memaksimalkan potensi saya dan bisa membantu saya bermain dalam banyak pertandingan secara beruntun, seperti yang saya lakukan di Euro,”

“Saya mampu melakukan itu dan memberikan peforma apik. Saya sedang merasa baik dan siap melaju,” lanjut Ramsey.

Meski tidak secara langsung mengaku tidak suka dengan metode latihan di Juventus, tapi Ramsey seolah memberi isyarat bahwa penyebab dirinya rentan terhadap cedera adalah karena metode latihan yang salah.

Tak Punya Gelandang Bertahan Yang Bagus, MU Sulit Juarai Liga

Kedatangan Cristiano Ronaldo memang meningkatkan performa Manchester United, akan tetapi Setan Merah dianggap masih memiliki satu masalah serius yang bisa membuat mereka kesulitan menjadi juara Premier League.

Pada bursa transfer musim panas kemarin, Manchester United memang telah merekrut sejumlah pemain anyar, diantaranya adalah Raphael Varane, Jadon Sancho dan yang paling menghebohkan, Cristiano Ronaldo.

Kedatangan para pemain top tersebut membuat Manchester United sempat mendapati serangkaian hasil bagus pada awalnya, namun konsistensi mereka tak bertahan lama.

Dalam lima pertandingan terakhirnya, Setan Merah bahkan hanya meraih dua kemenangan saja, bahkan kedua kemenangan tersebut diraih dengan performa yang kurang meyakinkan.

Kendati demikian, pasukan Ole Gunnar Solskjaer tersebut malah mengalami kesulitan dalam beberapa laga terakhir. Manchester United cuma bisa meraih dua kemenangan dari lima laga terakhir, itupun hasilnya tidak meyakinkan.

CHELSEA DAN LIVERPOOL LEBIH BERPELUANG

Mantan pemain Manchester City, Micah Richards lantas ragu dengan peluang Manchester United untuk bisa meraih kemenangan dalam jumlah banyak sepanjang 38 pertandingan Premier League, lalu menjadi juara.

Menurutnya, Chelsea dan Liverpool tampak jauh lebih meyakinkan untuk menjadi kampiun di akhir musim nanti ketimbang Setan Merah.

“Saya pikir Chelsea terlalu kuat, saya pikir Liverpool dengan [Virgil] Van Dijk sekarang…,”

“Saya tidak berpikir bahwa mereka [Manchester United] akan menjadi pemenang. Saya pikir mereka hanya akan nyaris juara. Panjangnya perjalanan memenangkan liga, 38 pertandingan, saya tidak melihatnya,” Richards dalam BBC’s Match of the Day Top 10 Podcast.

TITIK LEMAH MU

Lebih lanjut, Micah Richards kemudian mengungkapkan alasan dibalik keraguannya tersebut yakni fakta bahwa Manchester United tidak memiliki seorang gelandang bertahan yang paten.

McTominay sedang cedera, sementara Fred dan Nemanja Matic masih belum bisa diandalkan betul pada posisi tersebut.

“Kita berbicara soal Fred dan Matic pada posisi itu. [Scott] McTominay, dia sedang cedera. [Paul] Pogba lebih baik kalau bermain lebih maju. Kita berbicara soal bertahan, saya tidak melihatnya,” kata Richards lagi.

“Varane adalah pemain yang berkualitas, lini belakang sudah hebat, tapi peran gelandang bertahan, saya tidak yakin soal itu,” pungkasnya.

Fans MU Harap Bersabar, Jadon Sancho Pasti Bakal Gacor Kok!

Sejak bergabung dari Borussia Dortmund hingga sekarang, Jadon Sancho dianggap masih belum bisa tampil ciamik, terkait fakta ini Winger timnas Inggris tersebut dibela rekan setimnya, Luke Shaw.

Sebenarnya, Jadon Sacho sudah mencuri perhatian Manchester United sejak dua tahun lalu, menyusul performa apik sang winger bersama Borussia Dortmund. Akan tetapi, tawaran MU untuk sang pemain sempat ditolak klub Bundesliga.

Baru pada bursa transfer musim panas kemarin, Dortmund menerima tawaran senilai 85 Juta Euro yang diajukan Setan Merah. Dengan demikian, Jadon sancho pun resmi jadi pemain Manchester United.

Dengan performa yang apik bersama Dortmund serta tingginya banderol yang ditebus Manchester United untuk sang pemain, tentu saja ada ekspektasi tinggi terhadap performa Sancho.

Tapi sayang sekali, dari sembilan pertandingan yang telah dimainkan Sancho bersama Manchester United sejauh ini, tak sekalipun yang bersangkutan mencetak gol maupun assist.

HANYA MASALAH WAKTU

Fakta tersebut membuat Sancho lantas jadi sorotan, dia bahkan tidak dipanggil oleh Gareth Southgate untuk membela Timnas Inggris pada Jeda Internasional kali ini.

Namun, Luke Shaw sebagai rekan setim Sancho di MU memberikan pembelaannya. Menurutnya, beberapa pemain memang butuh waktu untuk beradaptasi, dan Sancho adalah salah satunya.

“Terkadang, bagi sebagian orang, butuh waktu. Saya tidak akan mengatakan kesulitan karena saya tidak berpikir dia sedang kesulitan saat ini. Dia bekerja sangat keras.

“Dia berlatih dengan sangat baik dan terlihat sangat tajam. Dia hanya tidak memiliki sedikit keberuntungan yang terkadang Anda butuhkan untuk gol pertama atau assist pertama Anda. Tapi saya tidak memiliki keraguan dalam pikiran saya, itu akan datang.” kata Shaw kepada talkSPORT.

BAKAL JADI PEMAIN HEBAT

Shaw kembali menegaskan bahwa Jadon Sancho memiliki bakat yang besar dan kini hanya masalah waktu sebelum melihat performa terbaiknya, karena itu para fans harusnya sedikit bersabar.

“Bakat yang dia miliki luar biasa, dia bisa langsung ke puncak. Ini hanya tentang dia tetap fokus, terus melakukan apa yang dia lakukan dalam latihan dan bekerja keras. Waktunya akan tiba.” lanjutnya.

Mbappe Ke MU? Raphael Varane Siap Dukung 100 Persen!

Di tengah-tengah hebohnya spekulasi masa depan Kylian Mbappe, Manchester United muncul sebagai opsi yang bisa jadi destinasi sang pemain. Jika itu benar terjadi, Raphael Varane selaku bek Manchester United siap menyambut kompatriotnya itu dengan tangan terbuka.

Meski memang masih belum resmi, namun dapat dipastikan Kylian Mbappe bakal meninggalkan Paris Saint-Germain pada bursa transfer musim panas mendatang.

Hal tersebut dikarenakan sang pemain sendiri yang telah mengkonfirmasi bahwa dia tidak akan memperpanjang kontraknya di PSG, dimana kontrak tersebut akan berakhir pada Juni 2022 mendatang.

Tak pelak masa depan Mbappe pun sudah jadi perbincangan sejak sepekan terakhir ini. Dia mulai dikaitkan dengan sejumlah raksasa Eropa, tapi dipercaya Real Madrid adalah klub terdepan yang berpotensi mendapatkan jasa Winger Timnas Prancis tersebut.

WAJAR JADI REBUTAN

Saat ditanya perihal masa depan rekan senegaranya itu, Raphael Varane tidak bisa berbicara banbyak, yang jelas dia yakin bahwa Mbappe sudah tahu apa yang dia inginkan dan untuk pemain seperti itu sangat wajar jadi rebutan banyak klub.

“Masa depan Mbappe? Dia tahu apa yang dia inginkan. Ia juga merupakan pesepakbola yang diminati banyak klub,” buka Varane kepada Route1Futbol.

Varane juga tidak menutup kemungkinan bagi sang junior menyusul jejaknya ke Manchester United.

GABUNG MU?

Menurut informasi yang terdengar, klub manapun masih berpeluang mendapatkan jasa Mbappe pada musim panas nanti, tidak hanya Real Madrid.

Nah, dipercaya Manchester United juga akan mencoba bergerak mendapatkan jasa winger Prancis itu. Soal kabar ini, Raphael Varane mendukung 100 persen, dia siap menyambut Mbappe di Old Trafford dengan tangan terbuka.

“Jika dia [Mbappe] memilih Man United, maka akan jadi kehormatan bagi saya untuk menyambutnya di sana. Apakah itu akan terjadi? Well kita lihat dalam beberapa bulan ke depan,” ujarnya.

Sebenarnya, Manchester United sendiri saat ini sudah memiliki dua sosok striker top dunia antara lain Cristiano Ronaldo dan Edinson Cavani, hanya saja keduanya termasuk pemain Uzur, dan klub diyakini mengincar striker muda untuk solusi jangka panjang.

Kedatangan Messi ke PSG Bawa Dampak Positif dan Negatif Untuk Liga

Salah seorang pemain Lille, Jose Fonte mengaku ikut senang melihat kedatangan mega bintang Argentina, Lionel Messi ke Ligue 1 meskipun itu untuk bergabung dengan klub rival, Paris Saint-Germain.

Gebrakan yang luar biasa memang dilakukan Paris Saint-Germain pada bursa transfer musim panas kemarin. Raksasa Ligue 1 Prancis tersebut berhasil merekrut sederet pemain bintang, dengan Lionel Messi sebagai highlight terbesarnya.

Yang lebih menarik lagi, peraih enam Ballon d’Or tersebut didapat PSG dengan status bebas transfer alias gratis setelah kontraknya dengan Barcelona berakhir pada musim panas kemarin.

Kabar kedatangan Messi ini tak hanya menggembirakan bagi para fans Paris Saint-Germain tapi juga para penikmat klub Ligue 1 secara keseluruhan. Banyak dari mereka yang ikut menyambut kedatangan La Pulga.

Bahkan, bek Lille yakni Jose Fonte juga turut senangdengan kehadiran Messi dan para pemain bintang yang lain ke Prancis.

“Di satu sisi, untuk liga bagus memiliki Messi. Dia menarik perhatian dan semua orang ingin melihat Messi dan para pemain hebat ini bermain,” kata Fonte kepada talkSPORT.

DATANG SAAT TIDAK TEPAT

Namun, Fonte juga tidak memungkiri bahwa kedatangan Messi dan para pemain bintang yang lain berlangsung di saat yang tepat, saat klub-klub Prancis baru saja melalui masa sulit setelah covid-19.

“Anda datang setelah COVID-19 di mana itu adalah waktu yang sulit bagi sepak bola Prancis, tidak banyak klub yang bisa membeli pemain dan bisa membuat rekrutan besar.”

“Kemudian Anda melihat PSG membawa pemain top. Saya tahu sebagian besar dari mereka adalah transfer gratis, tetapi Anda masih harus membayar gajinya.” Tambahnya.

TIDAK TERIMA

Pada akhirnya, Fonte pun tak memungkiri bahwa dia sebagai pemain Lille juga kecewa melihat bagaimana PSG bisa merekrut para pemain bintang yang membuat persaingan gelar Ligue 1 semakin sulit.

“Jendela transfer kami bukan yang terbaik dan kemudian Anda melihat PSG mendatangkan semua pemain hebat ini. Agak mengecewakan dan membuat frustrasi, tetapi Anda bertarung dengan senjata yang Anda miliki dan kami akan mencoba bertarung dengan senjata yang kami miliki. Kami akan mencoba melakukannya lagi tahun ini.” Tandasnya.

Soal Klaim Presiden Madrid, Paris Saint-Germain Kembali Murka

Paris Saint-Germain lewat Direktur olahraga klub, Leonardo mengaku kesal dengan sikap Real Madrid yang seolah-olah sudah pasti mendapatkan jasa salah satu pemain andalan mereka, Kylian Mbappe. Menurut Leonardo, perkataan Presiden Madrid adalah sikap tidak hormat kepada PSG.

Memang sudah merupakan rahasia umum bahwa Real Madrid mendambakan jasa Kylian Mbappe, bahkan sejak sang pemain belum bergabung dengan Paris Saint-Germain. Namun, entah mengapa sampai sekarang Los Blancos belum kunjung bisa mendapatkan sang Winger.

Sempat ada peluang besar bagi Madrid pada musim panas kemarin, dimana saat itu Mbappe dilaporkan telah menolak tawaran kontrak baru dari Paris Saint-Germain, sementara di satu sisi kontraknya akan berakhir tahun depan.

Namun sayang sekali, tawaran senilai 200 Juta Euro yang diajukan Real Madrid kepada PSG untuk transfer Mbappe tidak diterima.

Kendati demikian, Los Blancos tidak akan menyerah, apalagi mereka berpotensi mendapatkan jasa Mbappe dengan status bebas transfer alias gratis pada musim panas tahun 2022 mendatang.

Presiden Madrid, Florentino Perez juga mengindikasikan bahwa klub masih berusaha untuk merekrut sang pemain. Dalam pernyataannya baru-baru ini, Perez terang-terangan mengungkap rencana klub untuk mencapai kesepakatan pra Kontrak dengan Mbappe pada Januari 2022 mendatang.

KURANGNYA RESPEK

Leonardo selaku direktur olahraga PSG lantas mengkritik pernyataan dari Florentino Perez dengan menyebut bahwa itu adalah sikap tidak hormat Real Madrid terhadap PSG maupun Kylian Mbappe.

“Ini adalah contoh lain dari kurangnya rasa hormat buat PSG dan juga buat Mbappe,” tegas Leonardo ketika diwawancarai oleh L’Equipe.

BEGITU YAKIN

Yang membuat PSG kesal adalah fakta bahwa bukan cuma Perez yang mengklaim Real Madrid akan segera mendapatkan jasa Mbappe, tapi juga pelatih Carlo Ancelotti dan para pemain Los Blancos.

“Faktanya, di pekan yang sama, pemain Real Madrid [Karim Benzema], lalu pelatih Real Madrid [Carlo Ancelotti] dan kini sang presiden berbicara soal Kylian seolah-olah dia sudah menjadi bagian dari mereka.”

“Saya ulangi: Ini adalah bentuk dari kurangnya rasa hormat yang tidak bisa lagi kami tolerir,” pungkas pria yang pernah menjadi bagian dari Inter Milan dan AC Milan tersebut.

Saul Niguez Jarang Main di Premier League, Begini Penjelasan Tuchel

Thomas Tuchel selaku pelatih Chelsea angkat bicara mengenai Saul Niguez yang belakangan disoroti karena jarang sekali diturunkan pada ajang Premier League. Tercatat, Saul hanya mengoleksi satu caps saja di ajang Liga Inggris sejak bergabung dari Atletico.

Saul Niguez sendiri diturunkan dalam pertandingan melawan Aston Villa pada tanggal 11 september lalu, dimana itu adalah debutnya di ajang Liga Primer Inggris bersama Chelsea. Namun sayang, eks Atletico hanya tampil sepanjang babak pertama saja.

Nah, sejak saat itu gelandang Spanyol ini tak pernah lagi dimainkan oleh pelatih Thomas Tuchel di ajang Premier League. Padahal, Chelsea sendiri sudah memainkan 7 pertandingan liga, dan Saul hanya bermain selama setengah pertandingan saja.

Fakta tersebutpun membuat publik bertanya-tanya tentang keputusan pelatih Thomas Tuchel, apakah sang juru taktik memang tidak puas dengan performa Saul, atau ada alasan lain.

BELUM DIBUTUHKAN

Saat ditanya perilah tersebut, pelatih Thomas Tuchel memberikan bantahannya. Pria berdarah Belanda ini menegaskan bahwa keputusannya mencadangkan Saul bukan karena kualitas sang pemain yang buruk, tapi karena tim belum membutuhkan servisnya.

“Dia [Saul] sangat-sangat nyaris untuk jadi starter. Namun, pada akhirnya saya tidak mengambil keputusan itu sebab saya kira akan lebih membutuhkannya di laga lain yang membutuhkan garis tekanan tinggi.” ujar Tuchel di Chelseafc.com.

TAK PERLU KHAWATIR

Lebih lanjut, Tuchel juga meminta Saul untuk tidak khawatir akan situasinya saat ini, lagipula sang pemain juga baru bergabung pada musim panas kemarin. Tapi terlepas dari itu, Tuchel merasa bahwa Saul memang sangat dibutuhkan saat tim bermain dalam pertandingan dengan tekanan tinggi.

“Saya merasa dia perlu bermain menghadapi lawan dengan tekanan tinggi di tengah lapangan, bukankah bakal adil untuk berkata: ‘Oke sekarang buktikan diri dan mari kita lihat apakah adaptasimu sudah lebih baik?’,”

“Saya sedikit ragu-ragu. Dia tidak perlu khawatir, hanya perlu bekerja keras dan beradaptasi, dan kesempatan itu akan datang.” lanjut Tuchel.

Tuchel juga mengingatkan kepada publik bahwa sebagai pelatih, dia hanya diizinkan menurunkan 11 pemain saja setiap pertandingan.

“Kami hanya punya 11 kesempatan bermain [starter] untuk diberikan. Saya ingin memandangnya dengan cara positif,” tandasnya.

Walau Ada Ronaldo, Manchester United Diklaim Belum Siap Juara Liga

Awalan apik yang dicatatkan Manchester United dan juga kedatangan beberapa pemain bintang membuat Setan Merah dijagokan jadi juara Premier League pada akhir musim nanti, namun eks Liverpool Peter Crouch masih meragukan hal tersebut.

Bursa transfer musim panas kemarin memang betul-betul dimanfaatkan Manchester united untuk merekrut para pemain yang mereka butuhkan. Di Sektor pertahanan, Setan Merah merekrut Raphael Varane dari Real Madrid, sedang di sektor sayap, klub mendatangkan Jadon Sancho dari Dortmund.

Tak sampai disitu, pada pekan terakhir bursa transfer musim panas, Manchester United membeli Cristiano Ronaldo dari Juventus, dimana transfer ini membuat fans sangat antusias menyambut musim baru.

Benar saja, awalan yang meyakinkan kemudian ditunjukkan tim arahan Ole Gunnar Solskjaer, namun entah mengapa konsistensi itu hanya bertahan di tiga laga pertama saja, setelahnya penampilan mereka cenderung angin-anginan.

Contohnya saja dalam laga melawan Everton akhir pekan kemarin, dimana Manchester United hanya mampu bermain imbang 1-1 di kandangnya sendiri.

TIM YANG HEBAT, TAPI…

Peter Crouch sendiri mengakui bahwa Manchester United sekarang memang memiliki tim yang hebat, hanya saja untuk menjadi juara Premier League lagi masih meragukan.

“Ini adalah skuat pemain yang luar biasa. Kelas atas, kualitas di mana-mana, dengan kemungkinan pemain terhebat di dunia di skuat mereka. Tetapi masih ada perasaan yang mengganggu bahwa mereka belum siap untuk meraih gelar.” kata Crouch kepada MailSport.

LAGA VERSUS EVERTON

Lebih lanjut, Crouch memberikan contoh yang paling dekat saja kenapa dia merasa ragu dengan peluang MU meraih gelar juara liga, yakni pertandingan melawan Everton kemarin.

Padahal, Everton di atas kertas masih kalah dari Manchester United dan dalam duel tersebut Setan Merah bermain di kandangnya sendiri, tapi malah hasil imbang yang didapat.

“Mereka bermil-mil jauhnya dari (gelar juara) ketika dia (Solskjaer) mengambil alih. Dan mereka tidak terpaut jauh dari pemimpin Premier League. Tetapi apakah akan ada kejutan besar jika Solskjaer gagal mempertahankan tantangan gelar? Everton memberikan beberapa bukti.”

“Ada laga kandang lain di mana United akhirnya tersandung dan itu adalah saat-saat di mana tampaknya mereka akan terus goyah.” Tambahnya.

Neymar Memang Hebat, Tapi Dia Terlalu Manja

Mantan pemain Paris Saint-Germain, Edouard Cisse melayangkan kritik pedas kepada bintang Brazil, Neymar Jr terkait dengan performa sang pemain dalam duel melawan Rennes kemarin. Apa katanya?

Paris Saint-Germain memainkan journee ke-9 Ligue 1 Prancis pada akhir pekan kemarin melawan Rennes. Secara mengejutkan, dalam pertandingan tersebut tim arahan Mauricio Pochettino takluk dengan skor 0-2.

Tentu saja kekalahan tersebut membuat para pemain Paris Saint-Germain disoroti, mengingat fakta bahwa tim terdiri dari para pemain bintang sekelas Messi, Neymar, Mbappe, Ramos dan masih banyak lagi.

Namun dari sekian pemain Les Parisiens, nama Neymar adalah yang paling sering dikritik. Ya, performa Neymar dalam pertandingan tersebut dikritik habis oleh banyak pihak.

Bahkan, media Prancis Le Parisien memberikan rating yang sangat rendah untuk penampilan eks Barcelona dalam pertandingan tersebut, dengan rating 2,5 dalam skala 10.

TIDAK SEPERTI DI BARCELONA

Mantan pemain Paris Saint-Germain dan West Ham United, Edouard Cisse juga memberikan kritik pedas kepada Neymar. Dia mengakui bahwa pemain Brazil itu adalah pemain hebat, hanya saja sikapnya terlalu manja, suka memerintah dan tak terarah.

Sikap Neymar ini dinilai berbeda dibanding saat sang pemain masih berkostum Barcelona, dimana saat itu tugasnya adalah membuka ruang di lini pertahanan lawan.

“Dia adalah pemain hebat, tidak ada yang bisa membantahnya. Tapi, dia telah menjadi anak nakal yang manja dan dia memerintah semua orang di sekitarnya,”

“Di Barcelona ada sebuah struktur. Neymar memiliki gaya permainan yang lebih bersih, meskipun dia lebih banyak menggiring bola. Tugasnya adalah mendobrak garis pertahanan, membuat perbedaan dan mengoper bola ke jenderal Lionel Messi. Dia melakukannya dengan sangat baik sehingga dia menjadi alter egonya,” kata Cisse, seperti dikutip The Sun.

TERLALU BEBAS AKHIRNYA BABLAS

Kini di Paris Saint-Germain Neymar seperti dibeirkan kebebasan untuk melakukan apa yang dia inginkan, akhirnya sang pemain pun malah tersesat.

“Di Paris, mereka memberinya kunci dan mereka membiarkan melakukan apa yang dia inginkan. Dalam suatu momen, dia tersesat,” kata Cisse, yang memperkuat PSG dari 1997 hingga 2007.